Kamis, 10 November 2011

CERPEN KORAN TEMPO



Kepergian Sutasoma
Oleh
Gunawan Maryanto



 
 
 
 
 
 
BERITA ini kutulis untuk Sri Bajrajñana yang hampa—yang berdiam jauh di dalam hatiku—di sebuah malam saat Kali Sri Jinapati turun ke bumi mengusir segala yang jahat menggantikan Brahma, Siwa dan Wisnu.
Di Hastina, Kasihku yang Sedih, para raksasa merampok desa-desa, menghancurkan sekolah-sekolah, dan membakar tempat-tempat ibadah. Sri Mahaketu hanya diam di hadapan patung Jina. Sebagai seorang raja, seorang keturunan bangsa Kuru, ia tak mampu berbuat apa-apa. Bangsa yang tumbuh sepanjang seribu tahun di tepi sungai Sindhu itu seperti sedang bergerak pelan dan pasti menuju kehancuran. Di tangan Mahaketu segalanya seperti akan berakhir. Seluruh hari menjadi malam yang panjang. Tubuhnya yang berat seperti tak kuasa lagi bergerak. Ia tampak jauh lebih tua dari umurnya. Kantung-kantung matanya menebal dan sungai-sungai kering yang dangkal tercetak di dahinya yang lebar. Kini tak seorang pun percaya bahwa ia adalah seorang raja. Para raksasalah yang tengah berkuasa. Mereka menduduki posisi-posisi penting di Hastina, sementara kaki tangannya bergerak membuat kekacauan di mana-mana. Dan tak seorang pun mampu menghentikannya. Semula banyak orang masih berharap Mahaketu mampu mengendalikan polah para raksasa itu. Menegakkan hukum yang sudah ditanam oleh Prabu Kuru ratusan tahun yang lalu.

“Semalam aku bermimpi, Sri Jinesawarabajra, Guruku. Burung-burung bersayap belati menyerang istana. Mereka masuk dari segenap penjuru dan merusak apa saja yang mereka temui. Dari arah utara mereka menghancurkan Sitihinggil Lor, Bangsal Maguntur Tangkil, Balebang, Bale Angun-angun, Kemandungan Lor, Bangsal Pancaniti, Bangsal Sri Manganti, Bangsal Trajumas, semua bangunan itu dengan cepat rata dengan tanah. Dari selatan mereka memporak-porandakan Sitihinggil Kidul, Bangsal Kemandungan, Kemandungan, Bangsal Kemagangan Kidul, Keputren, Kasatriyan, Bangsal Prabayeksa, dan Bangsal Kencana. Lalu mereka seperti mencariku. Mengejarku hingga ke dalam kamar. Dan semuanya masuk ke dalam kamarku, ribuan burung bersayap belati itu. Mereka berkerumun melingkariku. Mereka diam. Seperti menunggu saat yang tepat untuk membunuhku. Aku dan isteriku saling tatap dalam ketegangan luar biasa. Dalam ketakutan yang belum pernah kami alami sebelumnya. Lalu dalam hitungan detik mereka bergerak serentak menuju mata isteriku, sepasang mata yang tengah kutatap sepenuh cinta itu. Ya, ribuan burung itu menyerbu sepasang mata isteriku. Aku berusaha menyelamatkannya. Aku berusaha melindunginya. Tapi kerumunan burung-burung itu begitu padat. Aku seperti menyeberang lautan burung yang liat. Aku hanya mendengar jeritan isteriku yang mengenaskan. Mereka menghabisi isteriku dengan sayap-sayapnya yang tajam. Aku tak bisa membayangkan bagaimana belati-belati itu berulangkali menancap di wajah dan tubuh isteriku. Seandainya kau berada dalam mimpiku, Guru, aku tak perlu mengulang mimpi buruk ini sekali lagi. Ranjang kami bersimbah darah dalam waktu yang cepat.” Pada sebuah malam Mahaketu berkeluh pada gurunya. Lelaki tua dengan dahi lebar berwarna hitam seperti habis terbakar itu memejamkan matanya.

“‘Burung-burung dari Lohabhumpittana,’ bisiknya dengan tenang. Tapi di balik permukaan yang tenang itu tersimpan, bagi yang bisa mendengar, sebuah getar ketakutan yang sangat. Sebab siapa yang tak tergetar oleh nama Lohabhumpittana, negeri besi yang mengerikan, di mana bertahta gunung-gunung yang terbuat dari besi membara, di mana terhampar padang rumput yang terbuat dari paku-paku, di mana berdiam hutan-hutan pohon pedang yang demikian merindukan darah. Ke sanalah para penjahat akan dikirim setelah kematian.”

“Negeri itu benar-benar ada, Guru?” Mahaketu gentar.

Sri Jinesawarabajra menggeleng. “Setidaknya dalam mimpimu.”

“Lalu apa artinya mimpi buruk saya itu?”

“Hastina tinggal memiliki satu harapan. Dan harapan itu dikandung oleh isterimu. Hanya itu yang bisa kubaca dari sana.”

Mahaketu tetap tak mengerti. Malamnya mimpi itu datang lagi. Sama persis. Seperti sebuah adegan yang diputar ulang. Juga malam-malam berikutnya. Ia seperti terus-menerus dipaksa menonton adegan yang sama. Kantung matanya kian tebal. Sebab hanya dengan terjaga ia bisa terhindar dari siksaan itu. Tapi siapa sanggup terjaga selamanya? Dalam pandangannya tamansari telah berubah menjadi belukar paku, hutan perburuan ditumbuhi pohon-pohon pedang dan gunung-gunung di kejauhan berubah menjadi logam merah yang membara. Mahaketu tak lagi bisa membedakan mana tidur mana jaga, mana mimpi mana nyata, batas itu telah kabur baginya.

Hingga kemudian terdengar kabar isterinya hamil. Hujan turun sepanjang satu bulan tanpa jeda sejenak pun. Seperti menyambut kedatangan sang Putra Mahkota. Seperti sebuah tanda: sesuatu akan tumbuh kembali di Hastina. Mahaketu mulai mengerti apa arti mimpinya. Harapan itu tengah dikandung isterinya. Benarlah nujuman Sri Jinesawarabajra. Mahaketu menunggu dengan tak sabar kelahiran anak pertamanya, harapan terbesarnya.
 .

SRI Bajrajñana, Kekasihku, dialah Sutasoma. Ia lahir dan tumbuh besar dengan memanggul salib Hastina di punggungnya. Semuda dan seberat itu bebannya. Ya, ya. Tak seorang pun mau berada dalam posisinya sekarang. Setiap saat Mahaketu membimbingnya dengan keras, menyiapkan pangeran muda itu untuk menjadi penggantinya. Sri Jinesawarabajra di sisa-sisa umurnya terus mendampingi Sutasoma, memberikan kelas-kelas terbaiknya—jñana  wisesa.

Dan saat itu telah tiba, Kekasihku: Mahaketu meminta Sutasoma segera menikah dan menggantikan kedudukannya sebagai raja. Seorang perempuan, keturunan raksasa, Kusumagandhawati telah dipilihkan untuk Sutasoma. Dengan pernikahan mereka dinasti Kuru akan kembali memiliki taji.

Tapi apa jawaban Sutasoma?

“Aku begitu sadar dengan seluruh kekuranganku. Dan kesadaran ini tak akan mampu menerima beban dan menanggulangi kesukaran-kesukaran yang melekat pada seorang raja. Hanya dengan mengejar keheningan sempurna di pucuk-pucuk gunung aku akan bisa mencapai selamat dan berguna bagi manusia.”

Patih Jayendra segera menggamit tangan pangeran muda itu. Ia mengingatkan betapa ayah dan seluruh rakyat akan sakit hati demi mendengar penolakan itu.

“Seorang ksatria, terlebih keturunan seorang raja, tak boleh meremehkan masa mudanya, juga ketampanan wajahnya, lalu menukar kehidupannya di kraton dengan kehidupan seorang pertapa.” Tak kurang-kurang Jayendra berusaha melunakkan hati sang pangeran.

“Setidaknya cobalah sebentar menjadi raja dan berilah ia keturunan. Baru sesudah itu pangeran bisa mengundurkan diri dan hidup di sebuah pertapaan.”

Pendeta Mahosadhi juga ikut urun rembug. Baginya Sutasoma adalah masa depan Hastina satu-satunya.

“Keheningan sempurna, sunyata, juga bisa diperoleh di tengah-tengah keluarga.”

Sutasoma bergeming. Baginya tempat untuk mencapai selamat bukanlah di sini. Tapi di sana. Di keheningan pucuk-pucuk gunung.

Dan di tengah malamnya, Sri Bajrajñana, Sutasoma meloloskan diri dari istana. Pintu-pintu gerbang terbuka dengan sendirinya, seperti merestui kepergian putra mahkota Hastina itu. Dan menangislah seluruh Hastina begitu mendengar kabar pelarian itu pada keesokan harinya. Harapan yang sudah kadung mekar rontok seketika, berjatuhan seperti bunga-bunga yang gugur di musim yang kering dan berangin.

Sorenya, saat matahari terbenam, Sutasoma sampai di sebuah dusun kecil di kaki gunung. Ia segera menuju kuburan. Ia ingin berdoa di hadapan patung dewi Bhairawi. Mungkin jalan menuju keheningan yang sempurna akan terbuka dari sana, dari restu Bhairawi-Durga. Tak perlu menunggu tengah malam Bhairawi-Durga muncul dalam wujudnya yang paling mengerikan—kerinduannya yang sangat pada Bhatara Guru. Tapi sosok mengerikan itu hadir bukan untuk melancarkan kutuk. Ia hadir untuk bersimpuh di kaki Sutasoma. Ia memanggil Sutasoma: Buddha.

Pada pemuda itu ditunjukkanlah jalan menuju gunung Semeru di mana Bhatara Guru tengah bertapa. Dan diajarkannya Mahahrdayadharani, mantra yang mampu menghancurkan setiap jenis kejahatan dan mampu membebaskan manusia dari segala macam penyakit dan kemalangan.

“Jika kau bertemu Bhatara Guru, sampaikan salam rinduku.”

Sesaat setelah mengucapkan kalimat itu sang dewi pun lenyap. Dan Sutasoma pun melanjutkan perjalanannya.
 .
DEMIKIANLAH, Sutasoma memilih pergi, Kekasihku. Mencari Sunyata. Bukan kekuasaan yang begitu hiruk-pikuk. Kelak mungkin ia akan singgah di dalam hatimu yang hampa. (*)
 .
 .
Yogyakarta, 2011
Cerita di atas berangkat dari kakawin Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular. Ditulis pada 1365-1389, ketika Majapahit diperintah oleh Rajasanagara.
.
Gunawan Maryanto giat sebagai penulis dan sutradara di Teater Garasi, Yogyakarta. Buku-bukunya antara lain Usaha Menjadi Sakti (kumpulan cerita pendek, Omahsore 2009) dan Sejumlah Perkutut buat Bapak (kumpulan puisi, Omahsore 2010).










 
 

Tidak ada komentar: