Sabtu, 18 Februari 2012

CERPEN JAWA POS


Pengusung Jenazah yang Berjalan Mundur
OLEH
ADAM GOTTAR PIRRE


 


DITERANGI  lampu biji jarak [1] yang ditusuk seperti sate, malam itu kami duduk setengah melingkar menghadap ke timur di sangkok [2] rumah. Di depan kami, terletak sebuah nyiru berisi biji jagung dan sebuah mangkuk batu. Dengan biji palawija itulah kami hendak menghitung jumlah kosakata yang masih tersisa dalam bahasa ibu kami, bahasa Dungau, setelah gelombang demi gelombang penjajahan, perang suku, progam KB, dan siaran televisi menyusutkan jumlah populasi kami dari 5 juta jiwa menjadi 461 orang, yang mendiami sebuah kampung terpencil yang diapit barisan bukit-bukit yang memanjang dari pesisir selatan ke utara.
Di bagian utara, kampung kami dibatasi oleh langit biru yang di bawahnya terdapat sebaris pohon pinang—yang mengingatkan pada sebuah lukisan kincir air dengan latar belakang pohon palem di rumah Mr Van der Hook di negeri Belanda—dengan bongkahan-bongkahan awan kumulus di atasnya yang bergulung-gulung bagai ombak Samudra Hindia yang menjadi batas kampung kami di sebelah selatan. Sedangkan di sebelah timur, tampak lapisan bukit-bukit terjal dengan tanah merah yang berlubang-lubang [3], mirip tembok batu bata belum diplester, yang pada setiap musim penghujan selalu mengirim banjir sampai dalam rumah, sehingga kami sekeluarga dan keluarga lain terpaksa tidur di atas pohon, sementara menunggu air surut ke laut.

Maafkan kalau aku hanya menyebutkan tiga di antara empat arah mata angin dalam pandangan kosmologi kami—yaitu utara, selatan, dan timur—sebagai pembatas kampung kami. Sedangkan arah satunya lagi—arah terbenamnya matahari—terpaksa tidak aku sebutkan. Sebab, kami begitu takut pada arah yang satu itu!
Sebab, gelombang demi gelombang imperialisme yang bercokol di tanah kami akan selalu muncul dari arah itu. Mereka datang silih berganti seperti rombongan sirkus atau perampok yang menjarah segala milik kami. Mulai rempah-rempah hingga bongkahan emas, semua digondolnya, seperti anjing menggondol tulang, hingga kami tak punya apa-apa lagi, kecuali lahan kering dan bayi-bayi bermata cekung dengan perut buncit mirip balon, yang oleh bidan puskesmas dibisikkan dengan suara lirih di telinga kami, “Busung lapar…!” katanya karena takut bocor ke kuping wartawan.

Sejak ribuan tahun silam hingga hari ini, tak kurang dari tujuh bangsa yang telah menjajah kami. Mereka datang dengan bermacam-macam alasan. Ada yang datang dengan membawa roh-roh halus, mitologi, azimat, uang logam, keris berkarat, kitab bersampul kulit binatang, bedil, televisi, telepon genggam, gambar porno, dan lain-lain. Tetapi, sebenarnya motifnya sama saja, yaitu kekuasaan dan uang. Maka, dalam waktu tak lama berselang, di tempat kami berdirilah tempat-tempat pemujaan, keraton, pasar, kemudian kantor-kantor, penjara, hotel-hotel, pusat bisnis, tempat hiburan, vila-vila di atas bukit, dan lain-lain, yang sebelumnya tak kami kenal. Sebab, kami sudah terbiasa dengan pola hidup bercocok tanam, berternak, menjaring ikan di laut, dan menenun pakaian sendiri. Selain itu, kami memiliki tradisi tenten [4], bukan ekonomi uang. Sebab, uang bagi kami sengaja diciptakan oleh golongan berkuasa untuk menukar hasil keringat kami, para petani, peternak, dan nelayan. Itu kejahatan! Karena itu, kami menolak semua buku sabda bersampul kulit binatang yang melegalkan uang dan ekonomi pasar.

Ketika salah satu komplotan penjajah pergi, setelah berkuasa selama tiga setengah abad, beberapa pulau di bawah kawasan ini kompak bergabung, lalu membentuk sebuah negara merdeka. Kami pun ikut bergabung dengan harapan nasib kami bertambah baik ke depan. Tetapi, lacur, yang terjadi malah sebaliknya. Perilaku mereka ternyata lebih buruk daripada penjajah. Korupsi merajalela. Pegawai-pegawai pemerintah makan gaji buta setiap bulan, tak jelas pekerjaannya. Emas, mutiara, dan hasil bumi kami dikuasainya serta dijualnya kepada pihak asing. Kami tambah sengsara seiring dengan menyusutnya jumlah populasi kami, dengan lahan yang makin menyempit seperti tikar pandan karena dipenuhi oleh mereka yang terus berdatangan seperti rombongan semut di malam buta, memenuhi setiap jengkal tanah.

Sekarang kami baru sadar, betapa ruginya bergabung dengan mereka dalam satu negara. Kami terdesak. Dan dongkol!

***

Gelombang demi gelombang penjajahan yang datang ke kampung kami selalu masuk dari arah itu. Karena itu, sebagian besar dari kami mengalami fobia, tak berani memandang ke arah itu atau sekadar membayangkan kapal-kapal yang berlabuh di dermaga pelabuhan di balik bukit. Apalagi mendengarkan bunyi raungan sirenenya yang memekakkan telinga serta menggetarkan udara dan butir-butir pasir di pantai, kami akan langsung menyumbat lubang telinga dan memejamkan mata sambil merasakan bulu kuduk berdiri seperti tunas ilalang di musim hujan. Beberapa orang dari kami juga akan langsung berlutut dan kencing di celana. Satu dua orang bahkan jatuh pingsan.

Sudah beratus-ratus tahun kami tak berani lagi memandang ke arah menakutkan itu. Jangankan menghadapkan wajah ke sana, menoleh pun kami tak berani. Jika ada di antara kami yang lupa dan secara kebetulan menengok ke sana, kami pun akan langsung menjerit-jerit histeris seperti melihat hantu atau setan. Sebab, yang terbayang di benak kami adalah bedil, meriam, pedang, tombak, panah, keris, baju zirah, dan para perempuan kami yang diperkosa seperti binatang. Sehingga kami akan langsung memekik!

Perasaan terteror itu menyelinap pula sampai alam mimpi sehingga membuat kami sering berteriak di malam buta. Apabila di waktu tidur secara tak sengaja wajah kami menghadap ke sana, hal itu akan menjelma menjadi mimpi buruk yang membuat kami langsung mengingau. Bayi-bayi di ayunan pun akan menangis seketika kalau wajahnya dihadapkan ke sana. Bahkan, konon, mayat pun akan mendadak memekik kalau wajahnya diarahkan ke sana. Meskipun, yang terakhir ini tidak untuk ditelan mentah-mentah karena ada ceritanya sendiri. Mengingat rasa takut itu sudah menyatu dengan kehidupan kami sehari-hari, lambat laun rasa takut itu berkembang menjadi mitos.
Karena alasan itu pula, di tempat kami berlaku sebuah aturan aneh yang tidak ada di tempat lain di kolong langit ini, yaitu dilarang memanggil nama orang dari belakang. Peraturan itu berlaku bagi kami yang sedang berjalan beriringan menuju ke timur. Yang berjalan di belakang dilarang memanggil nama orang yang berjalan di depan. Sebab, dikhawatirkan, begitu namanya dipanggil, yang bersangkutan akan langsung menengok ke belakang, yang berarti memandang ke sana, sehingga membuatnya berteriak-teriak. Ketentuan tersebut terpaksa diterapkan untuk melindungi suku kami dari rasa takut yang telah berlangsung selama beratus-ratus tahun sehingga membuat kami kerap menjerit-jerit seperti orang kerasukan roh-roh jahat.

Sejak peraturan ganjil itu diterapkan, seiring dengan makin menyusutnya populasi kami, jeritan-jeritan aneh itu mulai agak berkurang. Berbeda sekali dengan tahun-tahun sebelumnya, ketika populasi kami masih berjumlah 4,5 juta jiwa, di mana-mana yang terdengar hanya suara jeritan, bersahut-sahutan seperti serangga di lubang-lubang.

***

Bayang-bayang imperialisme yang terus menghantui sampai lubang kubur itu telah membuat kami hanya berani memandang ke utara, timur, dan selatan. Jika kami sedang menghadap ke timur, sementara kami hendak mengambil sesuatu—misalnya topi atau pisau—yang terletak di belakang kami, terpaksa kami mengambilnya dengan cara bergerak mundur agar tidak melihat ke arah yang menakutkan itu. Begitu pula ketika kami pergi ke rumah tetangga yang tempatnya di sebelah timur, saat kembali ke rumah kami akan menempuhnya dengan cara berjalan mundur macam undur-undur.
Repotnya adalah ketika kami harus bepergian jauh dalam jarak di atas 1 kilometer ke timur. Pengalaman itu membuat kami sulit untuk tidak mengeluh. Sebab, itulah salah satu beban terberat yang dirasakan oleh sanak saudara kami sebagai akibat dari nasib sial yang ditimpakan sejarah di punggung kami. Sebab, saat pulang kami harus berjalan mundur melalui bukit-bukit, sawah, ladang, sungai, dan jalan setapak. Bisa dibayangkan betapa beratnya mendaki dan menuruni lereng bukit berbatu terjal seraya berjalan mundur di antara pohon-pohon kaktus berduri tajam mirip jarum pentul, yang tidak jarang pula menancap di punggung dengan ujung patahan tertinggal di daging. Kondisi jurang yang curam kadang-kadang membuat kami terpaksa harus merayap mundur seperti pejuang gerakan bawah tanah di gunung-gunung. Padahal, berjalan mundur puluhan meter di tempat yang datar saja susahnya bukan main, apalagi di medan yang berat sejauh 3 atau 4 kilometer. Sulit dibayangkan! Tetapi, daripada mata kami harus melihat ke arah yang menakutkan itu, yang akan mengakibatkan kami berteriak-teriak seperti melihat setan, lebih baik kami berjalan mundur dan merelakan punggung kami tertusuk duri kaktus.

Selain kesukaran itu, beberapa kesulitan yang membuat kami merasa sangat tertekan adalah saat menyelenggarakan pesta perkawinan untuk sanak saudara kami atau mengurus jenazah. Bisa dibayangkan, orang-orang yang hanya berani menghadapkan wajah ke timur, utara, dan selatan harus mempersiapkan sebuah pesta, memotong kerbau atau sapi, serta menanggap hiburan yang akan berpentas semalam suntuk. Bagaimana kalau kerbau jantan atau banteng yang akan disembilih tiba-tiba mengamuk saat kakinya hendak dijerat dengan tambang? Akibatnya tentu mudah ditebak. Seperti yang terjadi pada pesta perkawinan Kuhala dan Nijara beberapa waktu lalu, persiapan pesta menjadi berantakan. Di mana-mana, yang terdengar hanya suara jerit tangis dan orang berteriak. Iring-iringan perempuan yang sedang berjalan menjunjung bakul di lorong setelah mencuci beras di pancuran tiba-tiba berteriak menjerit-jerit ketika seekor kerbau jantan mengamuk hendak menubruk mereka. Apa jadinya kalau mereka terkena sabetan ujung tanduk kerbau yang tajam itu. Karena itu, perempuan-perempuan itu berlari terbirit-birit ke sungai atau bergerak tak tentu arah sambil menjunjung bakul hingga secara tak sengaja wajah mereka menghadap ke arah yang menakutkan itu, yang membuat mereka langsung memekik sambil menutup mata dengan tangan, hingga bakul berisi beras di kepala mereka terlepas dan tumpah berhamburan ke sungai.

Itulah pesta perkawinan paling nahas sekaligus memalukan dalam sejarah tradisi kami. Sebab, para tamu hanya disuguhi kue-kue, buah-buahan, dan lauk-pauk, tanpa nasi. Tetapi, sebelum menghadiri undangan, rupanya mereka sudah mendengar kabar tentang peristiwa nahas itu sehingga memaklumi keganjilan menu yang dihidangkan oleh tuan rumah. Tidak ada yang menghina atau mencibir.
Tetapi, tanpa kegaduhan yang ditimbulkan oleh amukan banteng atau kerbau pun, setiap acara pesta memang selalu diwarnai oleh kegaduhan. Terlebih-lebih saat acara tontonan berlangsung di malam hari, suara jeritan akan lebih sering terdengar dari celah-celah penonton yang berjubel memenuhi bagan depan panggung yang diatapi daun kelapa. Untuk menghindari risiko yang lebih besar, biasanya panggung akan dibuat menghadap ke utara atau selatan agar para penonton maupun grup komedi yang pentas tidak menghadap ke arah yang menakutkan itu.

elain mengurus perkawian, kesulitan besar yang dialami oleh warga kami adalah ketika mengurus orang mati. Meskipun kematian hanya terjadi dua atau tiga kali dalam setahun, mengurus jenazah sampai selesai pemakaman selalu dirasakan sebagai beban terberat. Beban berat yang dirasakan ketika mengurus mayat bukan pada saat memandikan dan mengafaninya dengan kain tapo-kemalo [5], tetapi sewaktu membawanya ke kuburan.
Di tengah masyarakat kami, juga sudah lama beredar cerita bahwa apabila tubuh si mayat dihadapkan ke arah terbenamnya matahari, dia akan langsung memekik ketakutan seperti orang hidup. Menurut cerita orang tua-tua, peristiwa buruk itu pernah terjadi ketika Rahala Tortor, pimpinan suku kami yang bergelar Raja Batu IX, mangkat sekitar 150 tahun silam. Setelah jasadnya disucikan dengan air kelapa hijau 88 butir, lalu dikafani dengan kain tapo-kemalo, yang juga digunakan untuk membungkus oroknya waktu lahir, tubuhnya sempat dimiringkan ke kiri sehingga secara tidak sengaja wajahnya menghadap ke sana. Konon, beliau langsung berteriak memekik seperti orang ketakutan.

Entah, benar atau tidaknya peristiwa yang diceritakan secara turun-temurun dari mulut ke mulut oleh orang tua kepada anak-anaknya itu tentu saja sulit untuk dibuktikan secara ilmiah sehingga orang-orang di luar kami menganggapnya sebagai mitos belaka, termasuk peneliti dari Barat, seperti Dr Van der Hook dari Utrecht, yang juga sahabat keluarga kami, yang sempat mampir ke rumah dalam perjalan ke Australia dan PNG beberapa waktu lalu, juga berpendapat demikian. Tetapi, yang jelas, sejak mangkatnya Raja Batu IX—yang konon mempunyai istri makhluk halus itu—sampai sekarang sanak saudara kami akan selalu terlihat berhati-hati dalam mengurus jenazah, jangan sampai wajahnya sempat menghadap ke arah yang menakutkan itu.

***

Mengusung keranda jenazah ke kuburan sambil berjalan mundur itulah beban paling berat yang dialami oleh sanak saudara kami selama ini. Sebab, letak kuburan yang menyimpan jasad jutaan saudara kami berada di puncak bukit yang terdapat di arah yang menakutkan itu. Sementara kami harus menguburkan sanak saudara kami di sana.

Penyakit colonialism-phobia yang telah menimpa kami selama berabad-abad sebenarnya memberi kami cukup alasan untuk membuat sebuah lokasi kuburan baru di tempat lain, tetapi kami tak melakukannya karena tak ingin tulang belulang kami terpisah satu dengan lainnya. Meskipun, harus mengusung jenazah sambil berjalan mundur dari kampung ke kuburan di atas bukit.

Bisa dibayangkan, ratusan pelayat, termasuk anak-anak dan perempuan, terpaksa harus naik-turun bukit sambil berjalan mundur. Sementara di atas kepala mereka bergoyang-goyang keranda jenazah.
Seperti yang juga terjadi sore itu, ratusan orang terlihat sedang berjalan mundur mendaki lereng bukit di antara onggokan-onggokan batu hitam dan pohon-pohon mati. Di atas kepala mereka, begoyang-goyang dua keranda mungil, jenazah bayi korban busung lapar. Karena harus melewati sejumlah bukit sambil berjalan mundur, diperkirakan acara pemakaman itu baru akan selesai besok pagi.
***
Terdengar kokok ayam betina di atas atap dapur. Beberapa orang dari kami tak ikut ke kuburan karena mendapat tugas menghitung kosakata yang masih tersisa dalam bahasa ibu kami yang nyaris punah.

“Sudah berapa?” tanya Kuru sambil menahan kantuk dengan asap rokok lintingan kulit jagung.

“Sembilan ratus enam puluh satu,” jawab Siwur sambil memegang sisi mangkuk batu berisi biji jagung.

“Masih banyak?” tanya Kuru lagi, tak sabar.

“Kayaknya kurang dari seribu!” sahut Karwo yang masih terus menghitung.

Mata kami mulai terasa perih dan berair karena terus-menerus memelototi biji jagung yang tampak pucat dalam sinar lampu biji jarak yang berkedip-kedip seperti tetes hujan di tirisan atap, yang malam itu turun lebat mengguyur malam dan pohon-pohon.

Petir menggelegar, menyemburkan kilat yang berpijar menyambar pohon lontar di lereng bukit, dan menghanguskan kesusastraan kami. Tanah pun bertambah merah. Wajah kami tampak seperti Orang-Orang Merah dari Bumi yang Dilupakan [6]. Angin berembus, meliuk bagai tubuh pelacur tua, memadamkan lampu dari biji jarak. Semangkuk biji jagung berpindah ke mulut Siwur.

“Lapar…!” desisnya.

Itulah satu-satunya kosakata yang tersisa di mulut kami. (*)
 .
.
Ampenan, 12 Januari 2012
 .


CERPEN JAWA POS


Kang  Maksum
OLEH
A. MUSTOFA BISRI


 


Masya Allah! Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun!
Tidak mungkin, tidak mungkin! Kang Maksum? Ah….

BERITA itu cepat beredar. Berita yang benar-benar mengguncang kotaku. Di mana-mana—di pasar, di warung-warung, di perkantoran, di sekolah-sekolah—berita itu mendominasi pembicaraan. Seperti biasa, orang-orang pun asyik menduga-duga dan menganalisis.

Waktu itu media massa cetak dan elektronik belum seperti sekarang. Seandainya itu terjadi sekarang, pastlah beritanya akan menjadi santapan gurih pers. Akan menjadi perbincangan berhari-hari di media massa. Tinjauan dari berbagai sudut dan aspek pun akan ramai dilontarkan para pakar dan narasumber yang sengaja diundang.

Untunglah, waktu tiu pers belum seperti sekarang. Jadi, aku masih bisa menghindar dari pembicaraan tentang berita itu. Berhari-hari aku sengaja tidak keluar rumah agar tidak mendengar orang membicarakan berita itu. Rasanya, aku belum bisa menerima hal itu terjadi pada diri Kang Maksum.

Tapi, bagaimana menghindar dari pembicaraan tentang peristiwa yang begitu dahsyat? Tidak keluar rumah pun, pembicaraan peristiwa itu terus seperti menguntit dan menerorku. Seisi rumah seperti tidak pernah bosan dengan topik itu. Akhirnya, aku menyerah. Menerima kenyataan dan, meski sangat pahit, berusaha wajar menyikapi peristiwa yang mengguncang itu.

Kang Maksum meninggal. Itu saja sudah mengejutkan. Selama di pondok pesantren, saya belum pernah mendengar Kang Maksum sakit meskipun sekadar pilek. Dia tipe orang yang begitu perhatian menjaga kesegaran badannya. Setiap pagi dan sore, pada saat mandi, Kang Maksum tidak hanya menimba–dengan timba model senggot yang beratnya masya Allah—untuk dirinya sendiri. Dia sengaja juga mengisi kulah-kulah untuk kawan-kawan lain, terutama santri-santri kecil yang tak kuat menimba seperti saya. Dia mengatakan bahwa apa yang dilakukannya itu tidak untuk kepentingannya sendiri. “Ini membuat badanku sehat,” katanya.
Ah, Kang Maksum!

Terbayang olehku wajah Kang Maksum yang ganteng, yang selalu bersih seperti baru saja mandi. Masih terngiang-ngiang bicaranya yang lembut dan suaranya yang merdu bila membaca ayat-ayat Alquran atau membaca kasidah Al Barzanji. Tidak mungkin, tidak mungkin! Kang Maksum? Ah….
Kang Maksumlah yang mengajariku qiraah; mengenalkanku kepada nada-nada bayati, sika, dan hijazi di pesantren. Kang Maksum juga yang sering memberiku ijazah doa-doa dan berbagai wirid; mulai doa dan wirid agar mudah menghafal, agar tenang menghadapi setiap orang, agar hati tenteram, hingga doa aneh agar dapat melihat jin.

Di pesantren kami, Kang Maksum memang dikenal sebagai santri senior yang memiliki suara merdu setiap malam Jumat saat berjanjenan, acara bersama-sama ber-shalawat nabi dengan membaca karya madah Syekh Jakfar Al Barzanji, santri-santri selalu menunggu-nunggu giliran Kang Maksum membaca kasidah-kasidahnya. Terutama, saat melantunkan kasidah yang dimulai dengan “Ya Rabbi shalli ‘alaa Muhammad, ya Rabbi shalli ‘alaihi wa sallim” atau “Ya Rasulullah salaamun ‘alaik, ya Rafiasyaani wad-darajati.” Santri-santri lain yang kemudian bersemangat menyahuti lantunan itu berusaha ngepas-ngepaskan suara mereka dengan irama lantunan Kang Maksum. Tapi mana mungkin. Di samping merdu, cengkok lagu Kang Maksum memang sulit ditiru.

Di samping seni suara, Kang Maksum juga dikenal sebagai pendekar silat yang lihai dan digdaya. Konon, dia punya aji lembu sekilan yang membuatnya terbentengi dari pukulan dan aji welut putih yang membuatnya sulit ditangkap. Setiap pesantren mengadakan perayaan, seperti mauludan dan khataman, dan ada atraksi pencak silat, Kang Maksum yang mandegani, yang mengatur siapa-siapa yang tampil. Siapa-siapa yang tampil dan untuk silat keseimbangan; siapa yang tampil melawan siapa.
Biasanya, di akhir pertunjukan, Kang Maksum sendiri yang tampil mendemonstrasikan kepiawaiannya. Itulah yang paling ditunggu-tunggu penonton. Dengan gerakan tubuhnya yang ringan, Kang Maksum meloncat ke arena panggung. Pertama-tama, diperagakan kejadukannya dengan menghantamkan batu kali sebesar gentong atau pedang tajam ke punggungnya—yang sedikit pun tidak membuat goyah kuda-kudanya. Kemudian, dengan gagah dan lincah, Kang Maksum tidak hanya memamerkan jurus-jurus istimewanya, tapi juga memainkan berbagai senjata tajam, seperti pedang, tombak, dan trisula.

Sebenarnya banyak santri yang ingin belajar silat dan kejadukan Kang Maksum. Tapi, kebanyakan tidak kuat melakukan tirakatnya. Kalau, misalnya, hanya puasa seperti biasa, pasti banyak yang mampu. Ini tidak. Ada puasa mutih, puasa dengan berbuka nasi saja, tidak pakai lauk apa pun, selama 7 hari atau 40 hari. Ada puasa ngebleng, puasa sehari semalam tanpa buka. Ada puasa pati geni, tidak hanya puasa sehari semalam tanpa buka, tapi juga tanpa tidur. Bayangkan!

Kang Maksum sendiri memang ahli tirakat. Sejak entah umur berapa, konon sejak kecil dia ngrowod. Bukan hanya puasa ndaud, sehari puasa sehari buka, tapi ndaud dengan berbuka hanya umbi-umbian atau bulgur. Sudah ngrowod begitu, setiap buka—kadang-kadang juga setiap sahur—Kang Maksum makannya tidak lebih dari selapik cangkir.

***

Kelihatan sekali Kang Sofwan—seniorku dan kawan akrab Kang Maksum di pondok pesantren—terburu-buru. Dengan singkat dia menyampaikan berita itu. “Cepat sampean berpakaian,” katannya memerintah. “Kita ke sana sekarang.” Aku masih terguncang. Laa hawla walaa quwwata illa billah. Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Kang Maksum? Ah, rasanya tidak masuk akal.

“Cepat!” hardik Kang Sofwan tidak sabar.

Sampai di rumah Kang Maksum, kami lihat sudah banyak orang yang datang. Beberapa di antaranya duduk-duduk di halaman dan sebagian lain, yang kebanyakan kaum perempuan, berada di dalam rumah. Semuanya diam atau berbisik-bisik. Sesekali isak tangis terdengar meningkahi bagai irama gaib. Mbah Ghazali, modin paling tua di tempat kami, baru selesai melakukan tugasnya.

***

Siapa yang pernah membayangkan? Kang Maksum meninggal terlindas kereta api! Tubuhnya menjadi tiga bagian! La hawla wala quwwata illa billah!

Hanya karena kelihaian Mbah Modin Ghazalli, jenazah itu dapat dipertautrapikan. Tapi, kebuncahan hati ini? Ah.

Berita itu cepat beredar. Berita yang benar-benar mengguncang kotaku. Di mana-mana—di pasar, di warung-warung, di perkantoran, di sekolah-sekolah—berita itu mendominasi pembicaraan. Seperti biasa, orang-orang pun asyik menduga-duga dan menganalisis. Waktu itu media massa cetak dan elektronik belum seperti sekarang. Seandainya itu terjadi sekarang, pastilah beritanya akan menjadi santapan gurih pers. Akan menjadi perbincangan berhari-hari di media massa. Tinjauan dari berbagai sudut dan aspek pun akan ramai dilontarkan para pakar dan narasumber yang sengaja diundang.

Untunglah, waktu itu pers belum seperti sekarang. Jadi, aku masih bisa menghindar dari pembicaraan tentang berita itu. Berhari-hari aku sengaja tidak keluar rumah agar tidak mendengar orang membicarakan berita itu. Rasanya, aku belum bisa menerima hal itu terjadi pada diri Kang Maksum.

Tapi, bagaimana menghindar dari pembicaraan tentang peristiwa yang begitu dahsyat? Tidak keluar rumah pun, pembicaraan peristiwa itu terus seperti menguntit dan menerorku. Seisi rumah seperti tidak pernah bosan dengan topik itu. Akhirnya, aku menyerah. Menerima kenyataan dan, meski sangat pahit, berusaha wajar menyikapi peristiwa yang mengguncang itu.

Melihat tubuh Kang Maksum yang demikian, orang sulit mengatakan bahwa peristiwa tragis yang menimpanya itu merupakan kecelakaan.

Lalu? Pasti bunuh diri. Begitu kesimpulan orang-orang yang tidak mengenal Kang Maksum memastikan. Namun, bagi yang mengenalnya, seperti aku dan Kang Sofwan, bunuh diri adalah hal yang paling mustahil dilakukan oleh Kang Maksum.

Di samping cukup memiliki pengetahuan agama, Kang Maksum orang yang mencintai kehidupan.
Kah Zuhdi, alumnus pesantren kami yang lebih senior daripada Kang Maksum dan Kang Sofwan, mencoba meyakinkan bahwa almarhum Kang Maksum memang sengaja membiarkan dirinya dilindas kereta api untuk menjajal “ilmu”.
“Aku dengar, sebelumnya Kang Maksum pernah membiarkan dirinya ditabrak sepeda, motor, dokar, dan truk. Dan, sejauh itu, dia selamat-selamat saja, tak kurang suatu apa.”

“Jadi,” lanjut Kang Zuhdi, “kemungkinan besar itu merupakan kelanjutan dari uji coba tataran ilmu kekebalan Kang Maksum. Sayang, rupanya kali ini tidak berhasil.”

Mungkin banyak yang menerima kesimpulan Kang Zuhdi itu. Tapi, aku dan Kang Sofwan, yang sedaerah dan kenal baik dengan Kang Maksum serta keluarganya, tetap tak bisa menerima. Tak ingin menerima. Tapi. (*)


CERPEN JAWA POS

I   N   A
OLEH
LYA ADONARA

 





JARI-JARI kakinya disentuh satu-satu. Kemudian, gelas sirupnya ditulisi dengan telunjuknya. Entah apa. Kemudian, tangannya berpindah ke tiang-tiang. Menulisi sesutau lagi. Istriku mengelus-elus punggungnya, lalu beranjak ke dapur. Meyiapkan makan malam, mungkin.

Wajahnya ditutupi gerai rambutnya yang ikal. Terutama pada keningnya sebelah kanan. Aku tetap saja meliat bekas cabikan yang hampir kering pada keningnya.

“Ayah… jangan memandangiku seperti itu! Tidak suka aku.”

“Wajahmu tetap cantik, Ina. Luka-luka itu tak mengganggu sama sekali. Kau tetap gadisku yang paling cantik.”

Kami kemudian terdiam. Agak lama. Lama memang.

“Iya, Ayah. Dia yang melakukannya. Tapi, aku yang salah. Jangan marah padanya. Kumohon.”

Dia menjawab pertanyaan yang bahkan tak sempat kusuarakan. Sebenarnya aku marah. Marah kepada diriku sendiri. Bukan kepada lelaki yang melukainya.

Lalu aku bermain di masa lalu. Ketika Ina kecil menjadi cahaya yang membangkitkan. Ketika aku dan istriku sudah resah belum juga dikaruniai buah hati. Tak ada mimpi atau semacam supertisi yang meyakinkan. Bintang itu jatuh di saat kami mulai merasa Tuhan tidak adil. Inalah bintang itu. Terjatuh dari langit.

“Kami menyebut kelahiranmu sebagai keajaiban. Tiga tahun aku dan ibumu menanti kelahiranmu. Kau adalah doa yang terjawab. Bahkan, saat kau lahir tanpa detak jantung, aku dan ibumu tetap percaya akan ada keajaiban berikutnya. Dan benar terjadi.”

Dia hanya diam. Tak menjawab. Tak menatapku. Jari-jarinya menulusuri apa saja di dekatnya. Mata itu bercahaya. Seperti dewi. Bahagia. Tidaklah luka itu menyisakan sedikit saja luka lain pada hatinya?

***

Dua puluh lima tahun yang lalu. Dia hadir dengan tangis yang tak kalah keras dari seorang bayi laki-laki. Padahal, waktu itu usia kandungan istriku sudah sembilan bulan dua belas hari. Tapi putriku lahir dengan berat 1 kilo 8 ons. Seperti bayi prematur. Jantungnya tak berdetak normal, waktu itu. Bayi perempuan di inkubator tersebut kemudian kunamai Ina. Ratu agung, artinya. Nama itu adalah doa agar dia dicintai dan dipuja orang-orang di sekitarnya kelak.

Aku lalu mendidik ratuku menjadi sosok yang tangguh. Kuajari kakinya yang kecil-kecil tegak berjalan. Kemudian berlari di antara rumput-rumput. Pasir. Kerikil-kerikil. Dan akhirnya dia sanggup berlari di antara bebatuan. Setiap malam, kudongengi dia dengan cerita-cerita tentang orang-orang hebat. Kartini. Bung Karno, Bunda Theresa, Gandhi, Romo Mangun juga. Kubelikan dia macam-macam buku. Kuajari dia membaca dan menulis. Keceritakan padanya realitas kehidupan. Yang seirama, juga yang kontras. Lalu, tentang air, api, bintang, pelangi, langit.

“Ayah, aku ingin menjadi langit saja. Aku ingin setia. Pada ayah, juga pada ibu. Setiap saat aku selalu ada di atas sana untuk ayah dan ibu.”

Ah! Itu hanya kata-kata seorang bocah 8 tahun. Karena 15 tahun kemudian aku menemukan foto lelaki pujaannya di antara buku-buku sejarah kesukaannya. Juga, kudengar dia bercerita kepada ibunya. Aku dikhianati? Mungkin.

“Dia sangat mirip dengan ayah. Cerdas. Berwibawa. Ayah pasti menyukainya kan, Bu?”
Ternyata, dia jatuh cinta. Dia tidak kecil lagi. Tapi, bagiku dan istriku, dia adalah belahan jiwa yang tetap harus diamati agar jantungnya tetap berdetak normal. Sama seperti saat tubuh telanjang itu terbaring diam di inkubator. Tetapi, gadisku benar-benar jatuh cinta kepada lelaki itu.

***

Baru tiga bulan setelah perayaan penuh foto-foto itu, Ina tampak anggun dengan gaun putih gading. Semua bahagia. Tapi, tidak dengan diriku. Ada perasaan lain yang menyusup di balik rusukku. Bukan perasaan bahagia tentunya. Entah apa. Sama seperti aku, istriku juga merasakannya. Dan kami sama-sama tak tahu cara menjelaskan rasa itu. Tapi, kami mengerti. Hanya, Ina tak boleh tahu. Yang boleh dia ketahui hanyalah orang tuanya bahagia. Untuknya. Karenanya. Tanganku gemetar menggandengnya menuju altar.

Baru tiga bulan dan gadis kecilku sudah empat kali datang ke rumah dengan memar dan luka. Dan dia terus menerus menyalahkan dirinya atas luka-luka itu. Entah dia mengatakan yang sebenarnya atau dia sedang membela lelaki pujaannya itu. Ambigu. Membingungkan. Apalagi melihat binar kebahagiaan di mata itu.

“Ina, apa kau bahagia, Anakku?”

Diam. Hening.

Masih diam. Masih hening.

“Tahukah, kau, anakku? Luka-lukamu melukai aku dan ibumu. Apa benar lelaki itu mengasihimu?”

Brakkk!!! Prakkk! Hancur! Gelas yang sedetik lalu di tangannya kini tinggal keping kaca di ujung jemari kakinya. Mata yang tadi bahagia sekarang menyala-nyala marah. Semua benda di hadapannya dilemparkan sembarangan. Gelasnya. Gelasku. Buku. Bahkan kursi bambu, dilemparnya ke luar teras. Bulu kudukku merinding mendengarnya meraung-raung.

“Sakit… sakit… sakit!” sambil tanganya mencakar-cakar wajahnya sendiri.
Istriku belari ke teras rumah. Aku diam. Istriku diam. Tapi, gadis kecilku meraung galau. Sakit katanya.

Dan… brakk! Kali ini tubuhnya yang rebah. Lemah. Aku semakin diam. Istriku tidak. Dia baru terdiam saat duduk di samping tubuh koma putriku dalam ambulans yang diteleponnya tadi.
Ampun!

***

Nyiur-nyiur bunyikan senandung
Buai-buai sang putri
Rias-rias di senyum lalu hilang
Luka-luka yang mengganti
Orang-orang mulai jalang
Cabik-cabik hati mentari
Napas-napas di ujung mendung
Sepi-sepi telah tak ramai

Lirih istriku bersenandung. Kucium-cium kening itu. Kupeluk dia kuat-kuat. Kami sama-sama sedang takut. Kulihat hati yang tersayat-sayat karena sang jantug hatiku terbaring kaku. Hanya napas. Tanpa gerak. Tanpa suara. Tubuh itu kaku.

“Aku berharap dia terus di rahimku seumur hidup. Agar terus kujagai dia. Biar tak ada luka di kening dan di hati itu. Dengarkah kau, Ayah? Sakit katanya tadi. Padahal, tak sudi aku membiarkan sehelai rambut saja jatuh dari kepalanya.”

Dan, hening….

“Ingatkah kau natal itu, Ayah? Waktu Ina masih tiga tahun. Lucu sekali dia. Berlari dengan kakinya yang belum mantap. Lalu jatuh. Menangis. Kurobek renda rok merah kesayanganku untuk membalut luka di lututnya. Aku ikut menangis. Ingatkah?”

Kuat-kuat kupeluki istriku. Aku merasakan getir itu. Getir hati seorang ibu yang mendengar anaknya menjerit kesakitan. Dan aku, hanya ayah yang ketakutan. Tidak dapat berbuat banyak. Ampuni ayahmu, Ina….

***

Gadisku seperti malaikat. Pakaiannya serba putih. Ada sepasang sayap kecil di punggungnya. Binar-binar matanya menceritakan kebahagiaan masa ke masa. Sinar merah muda menaungi kepalanya. Rambutnya tergerai. Dua kali lebih panjang dari yang kemarin. Lalu, lelaki berbaju hijam datang. Menarik-narik sayap itu. Terlepas semua bulu-bulu yang indah  putih. Lelaki iut terus menyeret putriku. Di pipinya mengalir butiran bening. Tapi, bibirnya tetap tersenyum. Putriku tetap cantik. Isyarat matanya memintaku diam. Padahal, aku ingin menolongnya. Lalu, malaikat-malaikat nan cantik mengelilingi putriku. Heran. Mereka tak jua menolongnya.

Aku tetap terduduk. Lalu, datang istriku berkerudung putih laksana wanita Yerusalem. Pada dadaku dia bersandar.

Katanya, “Biarlah dia, Ayah. Mungkin dia bahagia.”

Demi Tuhan, aku tak setuju. Ingin kubantah. Tapi, lidahku kelu. Mulutku rapat terkatup. Malaikat-malaikat masih bersamanya. Masih tak menolongnya. Tubuhnya terseret pada butiran pasir. Dari kejauhan putriku menoleh. Lalu… tersenyum.

Gusti! Mimpi! Di siang bolong pula. Jam 1 siang. Panas.

***

Panjang umurnya….
Panjang umurnya

Teras itu masih baru. Kubuat tiangnya dari kayu maja. Kayunya kutebang di bukit dekat sebidang tanah peninggalan ayahku. Kayunya lalu kukeringkan. Kuukiri. Dan jadilah tiang yang megah menopang atap jerami. Etnik. Postmodern. Sejuk sekali teras itu. Ina kecil tak peduli pada kue coklat yang dihiasi dua lilin di atasnya. Ina belum mengerti arti sebuah perayaan syukur. Bagi dia, yang penting teras itu sejuk. Rindang pohon mangga di samping teras menyegarkan. Luasnya pun cukup untuk belajar berjalan. Tertatih-tatih pun Ina tetap belajar berjalan. Penasaran melihat yang lebih tua berjalan mungkin.

Bahkan, saat teman-teman sebayanya merengek-rengek bermain sepeda di tanah lapang, Ina masih suka mengayuh sepeda di teras rumah yang mulai sempit oleh tubuh, juga sepedanya. Di teras itu aku mendengar Ina bercerita tentang hatinya yang jatuh cinta kepada ibunya. Waktu itu aku di ruang tamu. Angin mengantar suaranya lewat kisi-kisi.

Pernah teras itu kubongkar karena jeraminya telah rapuh. Padahal, kayu maja belum lapuk. Ina memintaku tetap mengatapinya dengan jerami. Susah payah kucari sampai ujung desa kecamatan sebelah. Kubeli dari seorang peternak sapi yang punya tanah luas di dekat pantai. Kata orang, tanahnya banyak ditumbuhi jerami. Bagus jeraminya. Teras ini penuh kenangan. Terakhir dua bulan yang lalu. Di tempat yang sama putriku ambruk. Tak bernyawa hingga detik ini.

***

Aku sedang menengok rumah. Aku dan istriku bergiliran. Tiga hari sekali. Halamannya sudah kotor oleh jatuhan daun mangga yang telah kuning mengering. Ada sepasang sandal jepit. Mungkin milik anak tetangga yang masih kelas 3 SD. Rupanya, dia senang bermain di sini karena gelangnya juga terjatuh beberapa hari yang lalu.

“Sore, Pak. Singgah dulu. Ngopi di sini.”
Pak Lukas, tetanggaku. Aku tersenyum saja.

“Apa kabar Ina?”

“Baik. Masih diam saja dia. Marah pada aku dan ibunya barangkali. Ngambek,” aku bergurau.
Parau. Garing.

“Sabar, Pak. Pasti ada hikmahnya.”

Lalu istrinya tergopoh-gopoh dengan rantang tiga lapis di tangannya.

“Untuk makan malam nanti, Pak. Salam buat ibu. Semoga Ina cepat sembuh. Anak-anak sudah rindu pada Bu Guru katanya.”

Lalu, keduanya tersenyum. Ikhlas. Aku juga. Lalu acara kopi sore. Tidak di rumah Pak Lukas. Tapi, di teras rumah kami.

***

Tepat dua purnama. Ibu mertuanya tadi datang. Menyerahkan segepok uang kepada istriku, lalu buru-buru pergi. Gadisku masih koma. Memar-memar di fisiknya telah menyisakan trauma psikis. Sabar, kata dokter. Tiap hari kutanyai dia tentang anakku. Istriku menghitungnya.

“Ayah sudah 61 kali bertanya kepada dokter,” katanya.

Mengingat matanya yang bahagia, aku jadi khawatir. Lalu, sekarang dia terbujur kaku. Lalu, kata dokter, dia trauma. Lalu, istriku semakin kurus. Lalu, tiap hari kami bicara pada tubuh kosong itu. Lalu, bajing itu telah hilang ke mana. Lalu, aku merindukan ceria tawa putri kecilku. Lalu?

“Tidur dulu, Ayah.” Ketiga kalinya istriku meminta dalam waktu tak lebih dari sejam. Sudah ribuan kali sebelumnya.

Aku dan istriku mencintai buah hati kami dengan cara yang berbeda. Sama sekali! Istriku yang lembut mengajari Ina mencintai dengan tanpa batas. Karena cinta memang tak punya batas. Abstrak. Aku menginginkan anakku menjadi sosok tangguh. Mandiri. Istriku menjagai Ina agar tidak terjatuh. Aku suka melihat Ina bangkit sehabis terjatuh. Apa pun… itu karena kami mencintai Ina. Cinta sepanjang jalan….

“Lihatlah ayahmu, Ina. Sejak semalam tak mau tidur. Ibu tidak berhasil membujuknya. Ayahmu itu keras kepala. Sudah ibu ingatkan dia sejak kelahiranmu. Tidak boleh kami terlalu memuja dan mencintaimu. Toh, kau akan pergi meninggalkan kami,” lirih parau suara istriku.

Tak ada air mata. Titik-titik itu jatuh membasahi hatinya. Tidak pipinya lagi. Aku merangkul istriku. Kuciumi keningnya seperti malam pertama kami. Dan kami tersedu-sedu. Terisak-isak. Kemudian menjadi-jadi.

Luka dukaku
Dukaku dilukai
Membenci itu tabu
Tetapi hujan tak jua pergi

***

Dua bulan tujuh belas hari….
Ina menggerakkan jari kelingking kanannya. Aku terlonjak. Ibunya juga. Tiba-tiba, dia terbatuk. Aku memanggil dokter. Paramedis segera datang. Harapan. Kugendongi istriku tinggi-tinggi. Kami bahagia. Sungguh.

Berita bahagia untuk seisi jagat. Ratu agung itu telah bangun. Para sahabat datang berkunjung. Sebelumnya, pun mereka selalu datang. Hanya hati terlalu kosong untuk menyadari kehadiran mereka. Hari ini semua berdatangan. Oleh-oleh. Bunga-bunga. Tawa. Semua memenuhi ruangan putih ini. Banyak yang mencintai Ina. Semua bahagia melihat mata indahnya terbuka akhirnya. Tapi, suaranya yang serak tidak terdengar. Juga, tak ada lambai-lambai lentik jari-jarinya. Dan lelaki yang melukai Ina hilang seperti ditelan bumi.
Tapi, semua tetap bahagia. Ina yang tertidur kini telah bangun.

***

Di teras rumah kami….

Daun-daun mangga tumbuh baru. Putri kecil Pak Lukas mengejar kupu-kupu. Gerimis Desember menitik kecil. Awan tak banyak. Tak gelap juga. Rayap berbaris di batang maja tua. Teras ini semakin sejuk.

Krik… krik…. Bukan jangkrik itu. Hanya bunyi kursi roda. Ada perempuan tua yang mendorongnya dari dalam rumah. Krik… krik… satu lagi kuris roda. Folie a duex, kata dokter. Iu karena trauma psikologis pada dua orang yang terasosiasi sangat dekat. Seperti aku dan Ina. Kami sama-sama lumpuh. Paralysis agintas. Lumpuh dan gemetar. Tapi, semua bahagia. Istriku tak berkeberatan menyuapi dua orang. Uang pensiunan masih cukup untuk membeli beras.

Kami sedang di teras rumah. Istriku mengenakan baju merah. Ina memilih yang hitam. Ina dan istriku sama cantiknya. Hanya senyum istriku lebih lembut. Ina memberikan kesan tegas. Hampir keras. Mereka sangat mirip. Karena itu, aku mencintai keduanya. Yang satu tulang rusukku. Yang satu jantung hatiku. Aku lalu berjanji tak ada satu tangan pun yang boleh melukai Ina lagi. Seperti aku yang tak pernah melukai istriku. Tak satu pun! Sumpah!

***

Dingin. Ada salju di negeri tropis. Para wanita dan anak-anak tengah memanen bunga di depan teras rumah kami. Ina dan istriku juga. Kursi rodanya berderik-derik. Aku tidak ikut? Iya… malaikat melarangku ke sana. Kami telah terpisah ruang dan waktu. Tapi, mereka bahagia. Aku juga. Tentu karena mereka bahagia.

Pada bibirmu terpatri bait-bait cinta
Bersama jagat cerita cita mimpi kita
Keajaiban kita di sisimu
Lalu kau lupa pada janji musim semi
Bolehkah aku memintamu datang?
Aku rindu jemarimu….
Kenakan rangkaian kata jiwa di lehermu
Sampai bumi mendebu!

Yang ini bukan syair untuk Ina, tapi, perempuan tua di sisinya. Istriku. Perempuan terhebatku. Sayangnya, tak satu pun di antara mereka mendengarnya. Tapi, aku tetap bahagia. (*)
 .
.
Surabaya, 2011
.

CERPEN JAWA POS


S i h
OLEH
AJIB PURNAWAN




 

SETUMPUK bibir menyunggingkan senyum. Sih puas dengan jerih payahnya setiap pagi. Ia hanya tidak puas pada derita jiwa yang masih dikekang raga.

Telapak kaki yang ia gunakan untuk berpijak telah menebal beberapa centi. Langkahnya pasti, berangkat sebelum subuh ke hutan jati. Rombongan pencari kayu yang dulu ramai, kini tinggal Sih sendiri. Langkah-langkahnya biasa didahului kawan-kawan pengumpul ranting jati, dengan Hember tua, Gazelle tua, dan Vesting keluaran RRT yang mereka naiki. Sih tidak punya, bukan karena tak kuasa membeli.

Ia pulang ketika matahari menyinari dahi. Di punggungnya sebongkok kayu bakar dari ranting-ranting sisa pencuri. Jarik gendong yang dulu melingkar di tiga perut bayi, memeluk erat puluhan kayu bakar di punggung Sih. Bukan karena sedang melacak dompet yang tercecer bila ia berjalan membungkuk, lebih karena beratnya beban ranting basah seukuran betis.

Jika hari sedang mengikuti kata hati, Sih tak perlu jauh membawa kayunya pulang ke rumah. Lambaian tangan bisa segera meringankan beban di punggung. Tujuh ribu rupiah sudah cukup mampu menghilangkan rasa pegal di badan.

Sih letih, namun tidak heran. Ia memang perempuan yang tak pernah makan bangku sekolahan. Kata orang-orang, uang kertas dalam kepalanya berakhir di angka sepuluh ribu. Dua puluh ribu? Lima puluh ribu? Seratus ribu? “Itu bukanlah uang, hanya kertas yang tidak laku,” katanya.

Ia duduk sore itu. Di hadapannya sebuah meja segi empat dari kayu Trembesi seharga empat kali ia menjual kayu bakar jati. Kursi yang menyangga pantatnya kini harganya empat kali ia berjalan ke hutan. Sih tidak sadar, di bawah kursi-kursi yang mengitar meja pada empat sisinya seekor undur-undur sedang membuat rumah.

Iringan air mata langit sedikit-sedikit memercik dahi, melewati sela-sela genting tua dari tanah liat warisan budaya Babylonia. Langkah-langkah para petani pulang kandang juga turut serta mengalir masuk ke telinga Sih. Pijakan di tanah basah mambuat suara yang melewati lubang kecil-kecil di antara bambu-bambu tipis yang telah dianyam.

Janda itu masih duduk menyangga dagu dengan tangan kiri. Sikutnya menempel di meja, tangan lainnya sesekali mengambil intip lalu memasukkan ke mulut berbibir hitam. Tiang penyangga rumah hanya diam berdiri tegak, semuanya tak mampu mengajak bicara. Tetaplah Sih dalam kesendirian, namun tidak membosankan.
Suaminya? Tidak mungkin pecundang itu datang. Dua anak lelakinya, biarlah masing-masing mencari makan. Sang Hyang Lawu masih sayang, tak mungkin menelantarkan dua kepala yang belum mencapai lima belas tahun. Wo Imai sudah pasti bernasib baik. Si bungsu sejak masih berumur tiga bulan sudah dibawa mobil sedan. Sih menerima emas berupa kalung dan gelang sebagai imbalan, belum lagi tiga ratus uang sepuluh ribuan.

Sambil duduk, Sih masih belum paham, kemana emas dan uang. Meski ia sadar semuanya telah menjadi pembungkus tulang di tubuhnya. Tanpa ia sadari, zaman telah berganti. Di luar kemampuan kepala Sih, kayu bakar menjadi korban konversi. Pikirannya tak mampu menjangkau berita di televisi, walaupun sekadar mambayangkan. Maklum, ia satu-satunya janda setengah baya buta aksara di Banyubiru.

Sih beranjak ke belakang rumah. Kayu bakar yang ia kumpulkan telah memenuhi belakang rumah. Tak seorang pun dalam bulan ini orang sudi membeli.

Seeor tokek berbunyi delapan kali sebelum pintu reot rumahnya diketuk seseorang. Sih beranjak ke depan, sandal japit di kakinya menginjak rumah undur-undur yang belum selesai dibangun. Ia menarik slot pengunci pintu yang terbuat dari kayu. Pintu terbuka sebelum Sih sempat menariknya.

Ia masih ingat siapa pria di depannya meski hari mulai petang dan lampu bohlam lima watt tak begitu menyala terang. Siang tadi, pria itu tersenyum lalu mengedipkan mata kiri saat Sih sedang menjemur kayu bakar di bawah pohon pisang. Sih tersenyum juga dan membalas kedipan, mengaggukkan kepala ketika pria itu sore nanti akan datang.

“Aku dari sawah, langsung kemari,” menyelonong masuk melewati tubuh Sih sambil tangannya sibuk membuka kancing baju. Sih masih berdiri di depan pintu tatkala pria itu menjereng baju di sandaran kursi. Pria itu juga tidak tahu tetasan air dari bajunya memaksa undur-undur pindah tempat untuk membuat rumah.

“Eh, tutup pintunya,” yang diperintah baru saja ingin menghampiri pria itu, namun ia balik kanan dan menuju ke pintu.

To, pria yang datang di waktu hujan, adalah orang pertama yang sudi masuk rumah Sih. Ia tetangga RT, jika berjalan kaki ke sawah selalu melintas di depan rumah Sih yang lebih pantas disebut gubug reot pinggir sawah. Istri To perempuan yang cantik, tidak seperti Sih.

“Ayo,” tatapan mata To menggerayangi sekujur tubuh Sih. Perempuan itu tak biasa menerima tamu, tapi sering bertamu. Ia ingin mencontoh tiap orang yang pernah menjamunya ketika mengantar kayu bakar: membuatkan minum.

“Tidak usah,” kata To.

Polos, lugu, jujur, namun tumpul, seperti ketika ia membalas kedipan mata To. Tak paham artinya, tak tahu maksud kedatangan To juga. Lalu ia mendekat dan duduk berhadapan dengan lelaki yang masih basah kuyup.

“Satu kuintal padi akan kuantar ke rumah ini, musim panen masih dua bulan lagi,” To berbicara seperti itu sambil berdiri menarik tangan Sih, membawanya ke sebuah bilik ranjang yang disekat dengan anyaman bambu berpintu kain kelambu.

Sih mengikuti tangan yang menariknya, sejenak ia berhenti sebelum menyibak kelambu. “Satu kuintal, benarkah?” tanya Sih dengan girang. To hanya mengangguk penuh birahi. Sedangkan Sih masih belum tahu apa yang sebentar lagi terjadi, ia hanya mengikuti.
***
Undur-undur yang terganggu, cicak yang diam, dan tokek yang tadi berbunyi menjadi saksi petang itu. Mereka tidak akan bercerita kepada siapa-siapa. Seorang Sih memang sunguh-sungguh tak mengerti makna dosa, tak tahu arti neraka, sebab tak ada yang memberi tahu. Sedari kecil ia senantiasa bekerja, melakukan sesuatu untuk mendapat upah, menjual barang akan mendapatkan uang. Orang tua Sih tak memperkenankan anaknya sekolah, takut menjadi orang yang tidak jujur.
Para tetangga juga tak mendidiknya. Sih adalah kayu bakar, jika butuh memasak, barulah mereka ke rumah Sih, sebatas membeli kayu lalu pulang. Begitupula dengan Sih, tak pernah merumpi dengan para ibu. Ia tahu hidup untuk bekerja, hidup tidaklah untuk bicara saja, itu pesan orang tua Sih.

Peristiwa di balik kelambu malam itu adalah pengalaman baru bagi Sih. Ia ikuti kemauan To melepas gejolak pangkal pahanya. Toh, To memberinya satu kuintal, meski menunggu panen. Sih juga tahu kebiasaan itu, para manusia di desanya bilang masa panen adalah masa membayar. Mereka akan membayar pupuk yang sebelumnya telah mereka pakai, mereka akan membayar biaya SPP anak-anak, mereka akan membayar hutang di warung, bahkan membayar kayu bakar milik Sih juga di waktu panen. Sih maklum dan percaya.
Sih seakan mendapatkan pengalaman berharga. Tapi ia tak mungkin menawarkan auratnya dengan cara berteriak seperti menjual kayu bakar. Selugu-lugunya janda itu, ia tahu bawah perutnya tak boleh dibicarakan dan dipertontonkan. Namun boleh diapa-apakan di tempat yang tertutup, toh dulu suaminya juga melakukan hal yang sama.

“Ia akan memberiku satu kuintal, dulu suamiku tak memberi apa-apa,” batin Sih suatu siang. Sejak itu, berkali-kali To datang ke rumah Sih. Terkadang dua hari sekali, seminggu sekali, asal lingkungan sedang sepi, meski tak harus ada hujan.

Man dan Basu, pria bercucu dan beranak satu, mengikuti jejak To. Bagi Sih, itu melegakan hati, kayu bakarnya sudah tak bisa diharapkan. Perempuan itu membuat satu kuintal sebagai sebuah patokan. Tidak kurang, boleh lebih. Segalanya terjadi setelah mereka berdua mengangguk. Namun Sih masih bingung satu hal, mengapa ketiganya berpesan pada dirinya agar tidak menceritakan yang disaksikan undur-undur, tokek, dan cicak kepada siapa pun? Sih hanya mengikuti.

Dua bulan dinanti Sih dengan menghitung kusen pada langit-langit rumah yang sebenarnya adalah genting. Besoknya lagi ia menghitung genting, lalu jumlah nyamuk yang mengiang di telinga seperti mengejek saja tanpa menggigit. Bukan jumlah sebenarnya yang didapatkan Sih ketika berhenti menghitung, namun hasil yang diinginkannya. Hidup penuh hitungan, berhenti ketika lelap menjemput mimpi.
Pagi itu Sih tak ke hutan. Ia menyapu, dilihatnya banyak rumah undur-undur di lantainya yang berdebu. Jogan tempatnya berpijak memang tempat yang membahagiakan bagi binatang itu. Sih melihat satu rumah undur-undur yang besar, berbentuk kerucut terbalik sempurna, tepat di bawah tiang dalam rumahnya yang dekat dengan kelambu.

Sih girang, ia mengangkat sapu, mengembalikan ke belakang rumah, lalu balik lagi di atas rumah undur-undur. Sih memperhatikan seekor belalang sangit mati terperangkap dalam jebakan rumah undur-undur. “Musim panen tiba,” girang Sih setengah berbisik.

Sih keluar rumah, bertanya kepada Wo Min yang kebetulan membawa dua sak padi di atas sepedanya. Jawaban yang Sih terima, “Belum, baru beberapa sawah, seminggu lagi panen besar.”

Panen pertama hingga panen raya membuat Sih sedemikian sibuk. Ia memberikan jasanya membantu pemilik sawah memanen padi. Bermodalkan sabit kecil untuk memotong tanaman padi, batu seukuran kepala manusia untuk merontokkan padi dari tangkai, dan layar tempat memukulkan tangkai-tangkai padi ke batu, ia berangkat pagi, meninggalkan kesehariannya di hutan jati.

Sepuluh kilogram yang ia kumpulkan, mendapatkan upah satu kilogram padi. Sayangnya Sih tidak tahu hitung menghitung. Setahu Sih, bawon [1] yang ia dapatkan berjumlah satu sak, itu saja. Padahal kalau ia tahu, selama satu minggu, ia hanya diupahi 60 kilogram, itu pun setelah derep [2] di sawah Wo Min, Bupad, dan Panut. Belum lagi harus mengusung dari sawah ke rumah, tentu begitu lelah.

Sih sebenarnya juga tak mampu membayangkan, satu kuintal itu berapa sak. Yang ia tahu jumlah itu banyak, bahkan sangat banyak. Sambil duduk di kursi, bawon satu sak yang kini sudah bersandar di tiang rumahnya ia perhatikan. Lalu angannya melayang ke mulut To di petang pertama singgah di rumah Sih. Seperti sebuah kaset ia memutarnya kembali, “Satu kuintal,” ia lanjutkan memutar kaset kedua dan ketiga, bunyinya sama.
Setiap sore Sih duduk di kursi, persis saat hujan ia mendengar langkah langkah petani pulang dari sawah seperti dulu. Setiap sore juga, tak ada langkah kaki mendekat, terdengar lalu hilang. Penantiannya mencapai dua purnama. Musim panen berganti tanam, masih tak ada ketukan di pintu.

Suatu saat seorang perempuan datang ke rumah Sih, membeli kayu bakar. Ia bernama Warti, sebelum beranjak pulang, Sih berpesan kepadanya, “Suamimu punya hutang gabah satu kuintal.” Dan Sih menjawab dengan polos berondongan pertanyaan yang muncul setelah pernyataannya.

Sih tak tahu etika itu, Sih tak tahu cara berbohong. Umpatan yang ia terima dari istri To ia anggap ocehan burung pentet yang diam jika sudah makan belalang. Namun makian dan tamparan yang datang dari To beberapa saat kemudian, membuatnya menjadi linglung. Sih tidak bisa menangis karena Sih benar-benar tidak paham etika pangkal paha.

***

“Musyawarah pada malam hari ini akan diawali dengan pengakuan dari Sih,” ujar Kamituwa di tengah warga kampung. Acara malam itu memang heboh, tidak sepi seperti rapat biasa.
Sih melakukan yang diperintahkan Kamituwa, membuat pengakuan. Selama seperempat jam ia berbicara dengan bahasa Jawa dan raut muka menunduk. Tangannya mengelus-elus perut yang kini sudah tampak mengendut.

Manusia-manusia yang disebutkan dalam ceritanya tidak ada yang datang, tidak masuk wilayah pemerintahan Kamituwa. Detik itu juga puluhan pemuda menuju rumah-rumah manusia dalam cerita. Tak lama ketiganya tiba, diseret di tengah-tengah telaga manusia yang marah, akibat saling tuduh antar sesama tak pernah terbukti kebenarannya. Kini kebenaran itu telah duduk bersila di depan Sih, di samping Kamituwa, di tengah kepungan warga.

“Apakah kalian bertiga?” suara Kamituwa parau. Hanya To yang mengangguk, Basu menggeleng marah dan membentak Kamituwa. Tak disangka lemparan air ludah meluncur dari mulut-mulut warga yang sedang butuh sasaran amarah. Sedangkan Man malah menangis.

“Penuhi janji kalian kepada Sih sekarang juga,” para pemuda membawa mereka pulang ke rumah masing-masing. Sebentar kemudian ketiganya kembali ke rumah Kamituwa membawa sembilan sak gabah, masih di bawah ancaman para pemuda.

Kamituwa menyuruh semua orang untuk diam. Ia melihat Sih, lalu menyapu ketiga wajah laki-laki terhukum dengan mata yang dibuat bijaksana, “Kalian bertiga adalah ayahnya, biayai persalinan Sih.”

“Aku yang akan membesarkan bayi di perut itu,” tutup Kamituwa. (*)

CERPEN JAWA POS


KREDIT  JANDA
OLEH
SANIE B KUNCORO




 


PAGI datang. Cahaya matahari bergegas mengeringkan basah embun sisa semalam. Helai-helai daun yang lembab bergetar lembut pada reranting penumbuhnya, seolah siap bersegera menyerap sinar matahari sebagai menu sarapan untuk akar dan batang pohon. Serupa denganmu yang memantik api demi mematangkan hidangan sarapan.

Kau tambahkan sebilah kayu bakar pada lubang di antara potongan bata yang tersusun sebagai tungku. Segera api membesar, bertambah daya panasnya untuk mendidihkan sepanci air yang terjerang di atasnya.

Kau lepas simpul karung beras, harus kau cuci beras itu dengan segera sebelum air mendidih. Namun gerak sigapmu terhenti, bayang tubuh kecil anakmu di ambang pintu dapur seketika membuatmu membeku.

Telah rapi anak itu dengan seragam sekolahnya. Seragam putih pudar  nyaris kekuningan. Anakmu selalu tampak nyaman mengenakan seragam pudar warna itu. Barangkali karena seragam itu terbuat dari kain katun yang justru makin lembut karena sering dicuci, ataukah pemakluman demi berusaha menyamankan diri karena tidak ada pilihan untuk memperbarui seragam itu? Entahlah, bisa jadi kedua alasan itu saling melengkapi.

Anakmu gelisah. Tatap matanya mengguratkan galau sekaligus tanya yang jelas terbaca. Sedemikian nyata kegelisahan itu nyaris merenggut rona kepolosan anak usia sepuluh tahun.

“Bagaimana, Mak?” ragu dia bertanya.

Lidahmu membatu. Tak ada padamu jawaban memadai dengan alasan yang layak. Anakmu menunggu, tegak berdiri dengan sikap yang takzim.

“Bukankah semalam sudah ada uang itu? Mak simpan di lipatan stagen [1]?” Lagi anakmu bertanya. Kali ini suaranya seolah menggugat berbalut cemas.

Kau membisu. Benar, semalam uang itu tersimpan rapi pada lipatan terdalam stagen yang kau kenakan. Rapat dan erat stagen itu melapis perut tipismu, sama sekali tak menyembul apalagi memancing kecurigaan. Namun agaknya setiap lembar uang memiliki aroma tertentu sehingga terendus jejaknya oleh suamimu dan ikatan stagenmu tak berdaya menyembunyikannya lebih lama lagi. Tak cukup pula dayamu untuk mempertahankannya. Biru lebam pada pinggulmu masih menyisakan nyeri. Itulah  jejak hantaman ketika tak kau serahkan uang itu dengan rela. Ketika terkapar tubuhmu oleh pukulan, saat yang sama harapan dan rencanamu pun terkapar sia-sia.

Entah berapa bulan lalu anakmu mengingatkan tunggakan uang sekolahnya. Kemarau terlambat datang ketika itu, terik matahari hanya bertahan hingga tengah hari lalu mendung sesudahnya membuat batang-batang enceng gondok yang kau jemur tidak kering sempurna, menjadikannya tidak memenuhi standar pabrik penampung. Maka harus menunggu lebih lama sebelum meroncenya menjadi jalinan panjang dan disetorkan pada pabrik mebel di perbatasan kampung. Artinya uang pembayar biaya sekolah itu harus pula menunggu.

Akhirnya, setelah berbulan menjemur dan bermalam-malam meronce  kemarin sore kau terima hasil setoran roncean enceng gondok itu. Akan lunas tunggakan uang sekolah, bahkan tersisa sebagian untuk membeli beras, sedikit minyak dan bumbu dapur ala kadarnya. Demikianlah rencanamu pada mulanya.

“Mak,” anakmu memanggil. Suaranya bergetar, memantulkan cemas yang membuatmu gemetar sekaligus pedih.

Bergerak tatap matamu, beralih pada pintu kamar yang sedikit terbuka. Dari sana samar terhembus aroma tuak. Itulah jejak tertinggal dari jalinan enceng gondok yang menyita peluhmu sejauh ini.
Mata anakmu mengikuti tatap matamu

“Tapi hari ini awal ulangan umum, Mak,” lagi anakmu berkata. Kali ini berupa seruan yang menggugat, “tak akan guru mengijinkanku mengikutinya bila tak terlunasi tunggakan itu.”

Lalu kalian terdiam saling bertatapan. Kau sadari saat itu, kalian sepasang anak beranak yang nyaris kehilangan akal. Lalu desis air mendidih membawa sesuatu padamu, sekantung beras di sudut dapur. Tanpa berpikir lebih lama kau raih kantung itu dengan segera.

“Ini, berikan pada gurumu,” kau serahkan kantung beras itu pada kedua belah tangan kecil anakmu. “Katakan ini pembayar sementara uang sekolahmu. Nanti atau besok Mak akan menukarnya dengan uang tunai.”
Anakmu gugup, terutama adalah ragu.

“Sungguh-sungguh uang tunai,” katamu meyakinkan.

Anakmu mengangguk kemudian dan bergegas menuju sekolahnya. Sekantong beras erat berada dalam pelukannya. Entah dengan cara bagaimana akan diyakinkan gurunya untuk menerima sekantong beras itu berikut janji ibunya. Gagah langkahnya dalam gerak yang bergegas. Itu adalah karena ia seorang anak yang yakin pada janji ibunya.

Lalu kau kembali pada tungku di dapur. Memadamkan nyala apinya dengan sekali tumpas. Tidak ada lagi beras yang bisa kau tanak, air mendidih itu tidak kau perlukan lagi.

***

Kakimu melangkah menuju gudang wak Saroh. Sebuah bilik kecil dengan tumpukan karung gula pasir dan beras. Wak Saroh sedang memindahkkan gula dari karung besar ke dalam plastik pembungkus eceran 1 kiloan. Masing-masing ditimbang satu persatu hingga sekuintal gula itu terbagi dengan sempurna.

Kau raih dingklik (bangku kecil) dan duduk bersandar karung.

“Biarkan aku membantumu sehari ini,” katamu menatap Wak Saroh lurus-lurus, “Cukup bayar dengan sepiring nasi untuk makan anakku siang nanti. Aku tak punya beras sama sekali.”

Wak Saroh menatapmu, sama lurusnya dengan arah matamu.

“Kalau hanya sepiring nasi untukmu atau anakmu, tak usahlah kau bekerja padaku. Pergilah ke dapur dan ambil yang kau perlukan,” katanya.

Kau menggumamkan terimakasih.

“Bukankah kemarin kau beli sekarung beras?” Wak Saroh bertanya tanpa nada mendesak.

“Kupakai untuk membayar uang sekolah.”

“Zaman sekarang mana ada sekolah menerima beras sebagai pembayaran? Hanya sekantung pula, mana cukup? Seingatku itu hanya terjadi di sekolah desa terpencil yang bahkan tidak terjangkau aliran listrik.”

“Hanya itu yang kupunya.” Kau menunduk, menelan pahit yang mendatangimu entah sejak kapan.

“Ke mana pula uang enceng gondokmu?” mata wak Saroh menajam kini.

Kau gelengkan kepala, tanpa sepatah kata pun menjawab pertanyannya. Patahan kata yang tak perlu, karena wak Saroh pastilah tahu apa arti gelengan kepalamu. Napas panjang terhela kemudian. Diulurkannya padamu potongan tali rafia untuk mengikat plastik gula yang telah ditimbang.

“Apa yang kau harapkan dengan mempertahankan laki-laki itu?”
Pertanyaan beriring hela napas itu menghampiri liang dengarmu. Tarikan napas yang sungguh kau tahu gerangan apa yang tersirat di dalamnya.

“Kalau kau pikir bahwa suatu hari nanti ia akan terlepas dari jerat judi dan tuak, itu artinya kau sedang menunggu keajaiban. Dan keajaiban bahkan lebih langka daripada barang antik. Barang antik masih bisa kau coba cari di pasar loak, tapi keajaiban tak akan kita temukan di mana pun.”

Kau terdiam.

“Apa pula yang kau pertahankan? Di malam hari kau serupa pelacur percuma baginya dan siang hari serupa kantung uang yang selalu bisa dipalak. Banyak perempuan terbodohi oleh rayuan laki-laki. Tapi lelakimu itu bahkan tidak memerlukan rayuan untuk membodohimu.”

Hatimu tercabik. Bukan oleh karena ketajaman kalimat Wak Saroh, melainkan oleh karena kebenaran yang tak terelakkan pada setiap pernyataan itu. Apa yang diungkapkannya benar belaka. Kau bahkan lebih bodoh dari perempuan mana pun.

Lalu seseorang muncul di belahan pintu.

“Angsuran, wah Saroh,” kata tamu itu sembari memberi salam.

“Duduklah dulu sebentar, mau kutuangkan secangkir teh untukmu?” sambut wak Saroh.

“Terima kasih, akan terlalu banyak minumku nanti,” tolak tamu itu lembut, “masih banyak angsuran yang harus kujemput.”

Wak Saroh tertawa, “Begitu ya? Dan setiap angsuran hanya menawarkan air minum saja?”
Tamu itu ikut tertawa.

“Tanggal tua begini, banyaklah yang harus dihemat, itu supaya bisa tetap membayar angsuran tepat waktu.”

“Ya, begitulah.”

Saat Wak Saroh menyerahkan sejumlah uang, tahulah kau siapa orang itu dan seketika muncul sesuatu dalam benakmu.

“Bisakah kau beri aku pinjaman serupa itu?” tanyamu dengan segera. Sangat segera tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu apakah kau layak mengajukan permintaan serupa itu. Tapi bukankah harus kau lakukan segala hal demi memenuhi janji pada anakmu?

Wak Saroh dan tamunya saling bertatapan, lalu beralih padamu kemudian.

“Tapi ini kredit janda,” suara wak Saroh seolah mengambang.

“Apa artinya?” kau tidak mengerti.

Tamu itu menatapmu dengan sungkan berbalut belas kasihan.

“Maaf Ibu, ini bukan kredit biasa. Ini adalah pinjaman tanpa bunga atau pun barang jaminan, yang diprogram khusus oleh lembaga pendonor untuk membantu kehidupan ekonomi para perempuan yang tak bersuami.”

“Artinya, kau harus menjadi janda terlebih dahulu untuk mendapatkan bantuan pinjaman itu,” tambah Wak Saroh.

Kau termangu, lalu seakan melayu oleh harapan yang mendadak pupus. Jadi begitulah. Agaknya para janda dianggap lebih layak mendapat bantuan dibanding para perempuan bersuami. Meski kenyataannya ada perempuan yang justru lebih menderita karena bersuami.

Kau jinakkan harapan yang seketika tumbuh dan layu pada detik berikutnya. Kau redakan gejolak hati yang seolah hendak menggugat. Kau berpikir kemudian sudah waktunya untuk berhenti menjadi perempuan bodoh. Berhenti menjadi perempuan yang disetubuhi demi nafsu belaka atas nama perkawinan. Berhenti menjadi perempuan yang dipalak atas nama ketakberdayaan.
Bagaimana caranya?

Perceraian bukanlah sesuatu yang tidak memerlukan biaya. Lebih dari itu, lelakimu tidak akan sudi bercerai dengan mudah. Anakmu dan orangtuamu di kampung, bisa dipastikan akan menjadi obyek ancamannya untuk tetap mengikatmu.

Apakah demi semua itu kau akan tetap menjadi perempuan yang terbodohi bahkan tanpa rayuan?
Sejatinya kau bukan perempuan bodoh. Hanya dengan berpikir sebentar telah kau peroleh cara untuk menjadikan dirimu seorang janda, tanpa proses perceraian yang rumit dan mahal, tanpa pula melarikan diri dari ancaman.

***

Kakimu melangkah gamang membawa niat samar itu dalam benakmu. Kau hanya memerlukan beberapa cairan untuk membuat tuak oplosan, lalu menuangkannya pada botol-botol yang berjajar di meja di mana lelakimu biasa menempatkan tuaknya. Taruhlah pada jajaran terdepan sehingga akan teraih paling awal.

Pada saatnya tuak oplosan itu akan melakukan tugasnya dengan baik. Tujuan itu akan tercapai dengan sempurna tanpa menimbulkan pertanyaan yang berlebih. Seantero kota tahu bahwa dia adalah peminum kelas berat. Bukan hal aneh bila peminum mati oleh karena keracunan tuak oplosan. Hal semacam itu telah terjadi berulang kali di seantero negeri. Tidak perlu dilakukan pengusutan untuk memperoleh terdakwa. Kematiannya akan menjadi sesuatu yang diikhlaskan, bahkan disyukuri.

Semudah itu. Lalu kau akan mendapat pinjaman kredit janda untuk melunasi uang sekolah anakmu dan kau akan kembali meronce enceng gondok untuk melunasinya. Kau bahkan tidak perlu lagi menyembunyikan uang di balik lipatan stagen. Kau akan tertidur dengan tenang setiap malam tanpa perlu mendengar dengus nafas beraroma memuakkan.

Rancangan yang sederhana. Namun benarkah mudah?

Dahulu kala ada seorang nabi yang bermahkota jalinan duri dan disalibkan oleh sebuah rezim. Sebilah pedang menusuk lambungnya sehingga darah mengaliri palang salibnya dan matilah nabi itu.

Kematian nabi itu diyakini para pengikutnya, merupakan sebuah upaya penebusan dosa umatnya. Bahwa dialah yang tersiksa demi supaya dosa umat terampuni. Kematiannya adalah kunci pembuka pintu surga. Oleh karena itu nabi itu disebut sebagai Sang Juru Selamat.

Dengan kematiannya, suamimu juga akan menjadi juru selamat bagi keluarganya. Anakmu akan bersekolah dengan tenang karena uang sekolahnya terbayar tepat waktu, karena tidak lagi terrenggut untuk membeli tuak ayahnya. Kau akan menjadi seorang janda yang bekerja dengan giat dan menyimpan setiap rupiah penghasilanmu dengan leluasa dan aman di tempat yang sewajarnya tanpa harus merasa was-was setiap kali.
Kalian akan menjadi sepasang anak beranak yang mencoba menata masa depan dengan lebih baik yang tidak pernah terwujud selama lelakimu tetap tinggal. Dengan kematiannya, ayah anakmu akan menjadi seorang juru selamat.

Sang nabi tergenapi takdirnya sebagai juru selamat oleh karena seorang murid Yudas Iskariot menggenapi takdirnya sebagai pengkhianat yang menyerahkannya kepada rezim yang kemudian menyalibkannya.
Sekarang, sanggupkah kau menjadi seorang serupa Yudas demi menjadikan suamimu yang adalah juru bencana menjadi sebagai juru selamat?

Malam larut sudah, menebar jaring kegelapan pada langit tanpa cahaya. Tidak ada bintang berkedip yang terjaring di antara celahnya. Semesta seolah larut dalam lelap nan hening, sejauh telinga mendengar dan mata menerawang.

Namun sepasang matamu tak juga rebah dalam tidur melainkan terus berjaga menelusuri malam yang bagai tak berfajar. (*)
.

 

Rabu, 18 Januari 2012

CERPEN KOMPAS



Mayat yang Mengambang di Danau

Oleh
Seno Gumira Ajidarma









BARNABAS mulai menyelam tepat ketika langit bersemu keungu-unguan, saat angin dingin menyapu permukaan danau sehingga air berdesis pelan, sangat amat pelan, nyaris seperti berbisik, menyampaikan segenap rahasia yang bagai tidak akan pernah terungkapkan.

Memang hanya langit, hanya langit itulah yang ditunggu-tunggu Barnabas, karena apabila kemudian ia menyelam di dekat batang-batang pohon ke bawah permukaan danau untuk menombak ikan, secercah cahaya pun cukuplah untuk melihat segala sesuatu yang bergerak, hanya bergerak, tiada lain selain bergerak, ketika hanya dengan sudut matanya pun ia tahu mana bukan ikan gabus mana bukan ikan merah. Ya, tangannya hanya akan bergerak menombak secepat kilat bagaikan tak menunggu perintah otak, apabila kedua jenis ikan itu lewat meski melesat, berombongan maupun terpisah dan tersesat, yang mana pun takkan lepas dari sambaran tombaknya yang sebat.

Kacamata yang digunakannya untuk menyelam memang sudah terlalu tua dan agak kabur jika digunakan untuk melihat dalam keremangan, yang kali ini tampaknya masih akan bertahan cukup lama, karena langit mendung dan mega hitam bergumpal-gumpal. Dari dalam air, tanpa harus melirik ke permukaan, tahulah Barnabas hujan rintik telah menitik di seluruh permukaan danau. Namun apalah artinya hujan rintik-rintik bagi seseorang yang menyelam dan memburu ikan, bukan? Barnabas terus berenang di dalam air nyaris seperti ikan, memburu ikan, tanpa ikan-ikan itu harus tahu betapa jiwanya sedang terancam. Tentu ia mengenal ikan seperti mengenal dirinya sendiri.

Ikan-ikan tak berotak, pikirnya, pantaslah begitu mudah ditombak.

Namun Barnabas juga tahu, justru karena otak ikan sangat amat kecil, sehingga tidak mencukupi untuk berpikir, naluri ikan terhadap bahaya bekerja dengan kepekaan tinggi. Jadi Barnabas pun tetap harus menipunya. Makanya ia pun berenang seperti ikan, mengapung seperti kayu, menyelam seperti pemberat—dan sekali tangannya bergerak, memang harus melesatkan tombaknya lebih cepat dari bekerjanya naluri ikan. Ia telah memperhatikan, betapa ikan dalam rombongan akan lebih kurang berhati-hati daripada ikan yang berenang sendirian, mungkin karena merasa aman bersama banyak ikan, sehingga memang tak sadar bahaya mengancam.

Ikan yang terlepas dari rombongan dan kebingungan kadang lebih menarik perhatian Barnabas. Ia suka mengintai dan mengincarnya dengan hati-hati, kadang tanpa kentara memojokkannya, untuk pada saat yang tepat menombaknya tanpa ikan itu sempat mengelak.

Ikan merah artinya ikan gabus merah, sedap jika dibakar. Ikan gabus artinya ikan khahabei, besarnya bisa sebesar betis, persembahan bagi ibu-ibu yang baru melahirkan, tak kalah sedap digoreng, tetapi Barnabas beranggapan minyak goreng bukanlah bagian dari kehidupannya, karena memang tak pernah membelinya. Bahkan Barnabas tak pernah lagi makan ikan yang diburunya itu. Jika langit yang keungu-unguan itu telah menjadi lebih terang, setidaknya dua puluh sampai tiga puluh ikan yang bernasib malang di tangannya sudah tergantung di salah satu tiang dermaga. Jumlah yang cukup guna menyambung hidup untuk sehari, dua hari, tiga hari, seminggu, tak penting benar berapa lama, karena Barnabas setiap harinya menyelam jua—kecuali, tentu kecuali, pada hari Minggu, karena pada hari itu Barnabas beribadah.

Pada hari apa pun ikan-ikan tidak beribadah, pikirnya lagi, jadi ke manakah mereka pergi hari ini?
Bukanlah karena hujan maka ikan-ikan tidak terlihat, mungkin juga tiada sebab apa pun selain sedang berombongan mencari makan di tempat lain dengan moncongnya yang tak habis bergerak memamah-mamah. 

Namun tetap saja Barnabas merasa jengkel karena ini membuatnya terpaksa memburu ikan lebih lama. Ia memang tak suka memasang bubu dan tak juga suka memasang jala seperti banyak orang lainnya di pulau-pulau di dalam danau, karena memasang bubu bukanlah berburu dan memasang jala juga bukanlah berburu, sedangkan ia hanya ingin jadi pemburu ikan dan tiada lain selain berburu ikan seperti yang selama ini dianggapnya sebagai panggilan.
Ada orang ingin jadi pendeta, pikirnya pula, aku ingin jadi pemburu ikan.
Dari masa kecil diketahuinya orang-orang menyelam tanpa kacamata dan bahkan bisa mendapatkan ikan lebih banyak darinya sekarang. Mungkinkah air danau dahulu tidak seperti air danau sekarang? Lebih jernih karena memang lebih bersih dan mata penyelam tak harus menjadi pedas meskipun menyelam berlama-lama?
Barnabas tentu ingat betapa pada masa lalu di danau itu segala sesuatunya tidaklah sama dengan sekarang.

Dulu tidak ada raungan Johnson, pikir Barnabas, karena perahu bolotu tidak bermesin tempel. Dari pulau ke pulau, atau dari pulau ke daratan, orang-orang menggunakan bolotu yang hanya perlu didayung. Kadang penumpang bantu mendayung, tetapi tanpa bantuan penumpang pun, perjalanan dari pulau kecil yang satu ke pulau kecil lain di dalam danau yang dikelilingi perbukitan itu tetap bisa berlangsung, tanpa peduli apakah itu cepat ataukah lambat karena memang tiada waktu yang terlalu tepat maupun terlambat. Langit dan bumi bersenyawa tanpa peduli detak arloji—dan Barnabas lebih suka menjadi bagian langit maupun bagian bumi daripada arloji.

Maka tiada yang dikhawatirkan Barnabas jika pagi ini ikan-ikan seperti bersembunyi. Langit memang gelapnya agak lebih lama karena mendung dan hujan dan tentu saja ini harus dianggap biasa saja, begitu biasa, bagaikan tiada lagi yang lebih biasa, dan sungguh Barnabas sama sekali tiada keberatan karenanya.

Aku sabar menunggumu ikan, batinnya, setiap orang harus cukup bersabar menantikan makhluk yang akan menyerahkan jiwa hari ini demi kelanjutan hidup pembunuhnya. Apalah artinya menahan lapar sejenak untuk hidup lebih lama? Nikmatilah hidupmu yang amat sementara itu ikan, karena pada akhirnya aku akan membawamu ke pasar dan pedagang ikan akan segera memajang dirimu di meja kayu murahan, tempat koki restoran di tepi danau itu akan menunjukmu, membelimu, membuang sisik dan isi perutmu, lantas menggorengmu bagi santapan para wisatawan yang akan membuang tulang-tulang dan kepalamu untuk menjadi rebutan ikan-ikan emas di kolam yang tak tahu menahu betapa cepat atau lambat mereka juga segera akan jadi santapan dan tulang-tulang serta kepalanya juga akan dilempar sebagai pertunjukan kebuasan dunia yang tampaknya justru meningkatkan selera makan.

Barnabas tiba-tiba teringat, Klemen anaknya, yang putus sekolah teologia, pernah mengucapkan suatu kata yang tak dimengertinya.

“Homo homini lupus….”

Saat itu Barnabas memang bertanya, apa maknanya Klemen tidak melanjutkan sekolah untuk menjadi pendeta, menyia-nyiakan tabungan hasil berpuluh-puluh tahun berburu ikan. Di negeri danau, tempat setiap bukit berpuncak salib, menjadi pendeta adalah kehidupan terpuji.

Namun inilah jawaban Klemen anak tunggalnya itu, yang pada suatu hari tiba-tiba saja muncul kembali dari balik kabut di atas danau sambil mendayung bolotu, meninggalkan sekolah di kota untuk selama-lamanya.

“Apalah artinya memuja langit, tapi membiarkan darah mengotori bumi….”

Selama tinggal di rumah mereka, tempat kecipak air danau selalu terdengar dari bawah lantai papan dari malam ke malam, Klemen tampak sering tepekur. Ibunya sudah lama meninggal karena cacing pita dan mereka hanya hidup berdua saja, sampai Klemen pergi ke kota, atas restu pendeta, untuk belajar menjadi pendeta.

“Kampus tempat belajar agama pun diobrak-abrik tentara,” katanya, “benarkah sudah cukup kita hanya berdoa?”

Barnabas bukan tak mendengar orang-orang berbicara dengan nada rendah tentang penembakan dan kerusuhan di berbagai tempat lainnya. Klemen pernah membacakan pesan pada benda kecil yang sering digunakannya pula untuk bicara.

Aku masih di hongyeb, beberapa hongibi, dan syidos tahu persis siapa pelaku penembakan di gidinya, bekas nyahongyeb Dadbdedsya katanya punya data nama-nama pelaku penembakan. Mereka adalah (self-censorship oleh pengarang) yang menyamar sebagai pasukan sagangrod Tjhitgosoe ede dede nyalabi, seragamnya sama dengan sagangrod ini, senjatanya yang beda. Ini informasi A1, tapi kudu hati-hati, kami media tinggal tunggu siapa otoritas yang berani sebut siapa mereka. Jangan percaya omongan para petinggi munafik….

Barnabas sungguh tak mengerti apa yang harus dikatakannya. Negerinya hanyalah sebatas danau dengan tiga puluhan pulau yang dikelilingi tebing serba terjal dan meliuk berteluk-teluk itu. Ia tidak pernah tahu dan tidak butuh apa pun yang lain selain cakrawala negeri danaunya itu, yang telah memberikan kepadanya mega-mega terindah di langit biru, bukit-bukit menghijau, dan kedalaman di balik permukaan danau tempatnya memburu ikan-ikan yang baginya merupakan segala dunia yang lebih dari cukup. Ditambah khotbah para pendeta yang menyejukkan setiap akhir pekan dan pesta rakyat dari segenap pulau setiap tahun, itu semua sudah lebih dari apa pun yang bisa dimintanya.

Namun Barnabas merasakan perubahan yang terjadi belakangan ini, bahwa pendeta yang tidak bicara tentang kemerdekaan gerejanya akan sepi.

***

Hujan tampak menderas dan ketika Barnabas mengambil napas di permukaan danau memang sepanjang mata memandang hanyalah dunia yang kelabu karena tirai hujan dengan latar belakang bayangan punggung perbukitan di kejauhan.

Perutnya terasa agak lapar tetapi tenaganya sama sekali belum berkurang. Ia bisa membawa ikatan dua puluh sampai tiga puluh ekor ikan ke pasar, tetapi jika hanya membawa sepuluh atau lima belas pun tidak ada yang harus disesalinya sama sekali. Bahkan jika ikan yang ditombaknya cukup besar—dan ikan-ikan terbesar suka menyendiri—maka seekor atau dua ekor pun justru akan dibayar lebih tinggi daripada sepuluh ikan yang biasa.

Ya, ikan-ikan tak tahu kapan akan mati, batin Barnabas, tetapi pagi ini tampaknya belum ada yang akan mati. Setidaknya di dekat permukaan ini.

Maka Barnabas menyelam, menyelam, dan menyelam semakin dalam, ke tempat ikan besar biasanya menyendiri.

Namun gagasan tentang ikan besar yang menyendiri ini, yang memisahkan dirinya secara alamiah karena tak dapat lagi berombongan ke sana kemari dengan ikan-ikan kecil meskipun dari jenisnya sendiri, mengingatkan Barnabas kepada dirinya. Sedikit pemburu di antara penjala dan pemasang bubu, dan di antara pemburu yang biasanya bekerja siang atau malam, hanyalah Barnabas yang selalu bekerja tepat menjelang fajar merekah—jelas membuatnya berbeda, keberbedaan yang mungkin menurun kepada Klemen. Memang banyak hal tak dimengertinya pula dari gagasan-gagasan Klemen, apalagi ketika ia bicara tentang pernyataan untuk merdeka….

Manusia kadang masih seperti ikan, pikirnya, tak dapat bercampur baur dan hanya nyaman dengan golongan sejenisnya.

Di danau itu telah dimasukkan ikan dari tempat asing, seperti ikan gabus Toraja, yang ternyata lebih suka memakan telur ikan gabus asli dari danau itu maupun ikan-ikan lainnya. Ikan gabus asli yang disebut khahabei itu harus dicari para penyelam di bagian danau terdalam. Sedangkan ikan lohan yang juga asing di danau itu, tak hanya memakan telur-telur ikan gabus, anak-anak ikan gabus, dan ikan-ikan kecil lain, tetapi juga udang dan jengkerik . Maka ikan-ikan asli lain seperti ikan seli, ikan gete-gete besar dan kecil, ikan gastor, ikan gabus merah, ikan gabus hitam yang dahulu berlimpah kini hanya tertangkap dalam jumlah sedang; yang masih banyak tinggal ikan-ikan hewu atau ikan pelangi, tetapi ikan kehilo semakin susah dicari, mungkin karena makin jauh bersembunyi, mungkin juga memang tinggal sedikit sekali. Tempat mereka telah diisi ikan-ikan asing yang disebut ikan mata merah, ikan tambakan, ikan sepat siam, ikan nila, ikan nilem, dan ikan mas. 

Barnabas tahu benar, dahulu setidaknya terdapat dua puluh sembilan jenis ikan, termasuk ikan laut yang masuk dari muara sungai di sebelah timur, dan sekarang hanya enam belas jenis, itu pun tinggal sembilan jenis yang asli.

Ikan makan ikan, apakah manusia tidak memakan manusia? Barnabas tidak terlalu peduli apakah ia pernah menjawab pertanyaannya sendiri.

Sudah beberapa hari Klemen menghilang. Tetangganya menyampaikan kadang ada orang datang bertanya-tanya tentang Klemen—bukan, mereka bukan sesama penduduk di negeri danau yang saling mengenal sejak dilahirkan. Perahu bolotu yang digunakan Klemen juga masih di tempatnya, ketika beberapa malam lalu mendadak terdengar deru perahu Johnson di kejauhan pada tengah malam. Penduduk yang masih terjaga saling berpandangan. Mereka yang terbiasa menyendiri memang harus menghadapi segala sesuatunya sendirian.

Barnabas menyelam makin dalam, bahkan sampai menyentuh lumpur di dasar danau. Seekor ikan khahabei besar yang waspada berkelebat, mengepulkan lumpur yang segera saja menutupi pandangan. Barnabas tidak dapat melihat apa pun. Cahaya yang sejak pagi tidak pernah lebih terang dari kekelabuan dalam hujan, di dasar danau ini tak dapat juga memperlihatkan sesuatu kepada Barnabas.

Namun di antara kepulan lumpur pekat Barnabas merasakan sesuatu datang dari dasar danau dan ia segera menghindarinya. Tak urung, sesuatu yang mengambang karena gerakan ikan khahabei itu telah melepaskan keterikatannya dari akar-akaran di dasar danau, menyentuh tubuhnya juga dalam perjalanan ke permukaan danau.

Ia terkesiap dan melepaskan dirinya dari kepulan lumpur, melesat dan menyusul sesuatu yang segera jelas merupakan sesosok mayat. Dari balik kacamata selamnya yang buram, matanya terpaku kepada sosok itu, yang perlahan tetapi pasti menuju ke atas sampai mengapung di permukaan danau. Dengan cahaya yang sedikit lebih baik daripada di dasar danau, meskipun tidak terlalu jelas, Barnabas dapat memastikan bahwa tangan dan kaki mayat itu terikat, dan pengikatnya adalah robekan bendera bergaris biru putih, sedangkan mulutnya disumpal dengan kain merah.

Di permukaan itu hujan bukan semakin mereda tetapi menderas. Angin keras menyapu seluruh permukaan danau, sehingga air hujan yang turun dari langit tersibak bagaikan tirai raksasa yang melambai-lambai. Di antara deru angin yang menarik-narik daun pohon nyiur di semua pulau, terdengarlah jeritan panjang dari tengah danau.

“Klemeeeeeeeennnn!” (*)
 .
.
Jayapura, 12-14 November 2011
.


CERPEN KOMPAS



Gerimis Senja di Praha

Oleh
Eep Saefullah Fatah







SENJA Agustus memerah di kaki bukit Petrin, Mala Strana. Langit mengencingi Praha tak habis-habis. Gerimis turun sejak siang dan tak juga membesar. Sungai Vltava baru saja mulai tenang setelah marah meletup-letup selama setengah pekan lalu. Dua hari lalu, airnya naik hingga sembilan meter. Jembatan Charles nyaris terendam. Kemarahan Vltava nyaris saja menenggelamkan Praha.

Kau ada di situ. Begitu saja. Berpayung jingga. Berdiri mematung. Matamu terlihat menerawang. Bajumu putih, sedikit berenda. Kalau saja matahari sedang berbaik hati pada Praha, rok tipismu tentu menerawang pula. Kau seperti berjejer dengan patung-patung monumen itu. Menjadi bagiannya yang paling menarik.

Monumen karya Olbram Zoubek itu sederhana belaka. Terdiri dari tujuh anak tangga dengan tujuh sosok di atasnya. Ketujuhnya terlihat sedang melangkah naik. Sosok yang berdiri di anak tangga terbawah adalah seorang lelaki dengan tubuh yang lengkap. Tapi semakin tinggi anak tangga, semakin tak lengkap bagian tubuhnya. Akhirnya, di anak tangga teratas, berdiri sosok yang sudah kehilangan begitu banyak anggota tubuhnya sehingga nyaris tak lagi berbentuk manusia.

Monumen ini adalah salah satu dari sekian banyak monumen yang dibangun di Republik Ceko setelah komunisme mati. Bagiku, pesan yang disampaikannya tegas-terang-benderang. Komunisme menawarkan kebohongan berongkos mahal. Seolah menyediakan anak tangga untuk naik menggapai kejayaan, tapi sejatinya adalah parade prosesi kematian kemanusiaan.

Sepekan menyusuri Praha cukup untuk menemukan betapa masa lalu, termasuk yang baru saja lewat, beroleh tempat penting. Monumen, mural, artefak museum, teater mutakhir, seni rupa beramai-ramai mengabadikannya dengan saksama. Sepertinya, ada kerja kolektif untuk menjaga ingatan. Semacam saling mengajak waspada.

Jakarta adalah lain cerita. Uang dihamburkan untuk lampu-lampu hias, air mancur, patung-patung pahlawan palsu dan monumen-monumen nirmakna. Ketika Praha dikepung ingatan, Jakarta terkubur kepalsuan dan lupa.

Kau tetap mematung menerawang di sana. Di pelataran monumen yang sempit ini, jarak kita, mau tak mau, dekat belaka.

“Kau pasti dari Asia. Filipina?” Suara empukmu menyengatku tiba-tiba.

“Eh…. Ya. Asia. Indonesia.”

“Mengherankan juga. Ada turis yang suka monumen jelek ini.” Batas antara seringai dan senyummu menyembul dari balik payung jingga. Gigimu putih berkilau.

“Memang jelek secara artistik dan arsitektural. Tapi aku suka pesan yang dibawanya. Ajakan waspada pada kembalinya kebrutalan masa lalu. Menjaga ingatan. Melawan lupa.”

“Hmmm….”

“Kenapa kau bilang ini monumen jelek?”

“Lihatlah tujuh sosok itu. Semua laki-laki. Padahal, lebih banyak perempuan yang jadi korban komunisme. 

Bahkan, perempuan adalah korban berlapis-lapis. Korban partai, negara, dan laki-laki. Dan si pematung tetap saja seperti laki-laki umumnya. Memandang perempuan hanya sebagai pelengkap. Statistik. Bukan manusia.”

“Wow! Kau punya sinisme para feminis!”

“No. No. No. Tanpa menjadi feminis, perempuan mana pun, bahkan laki-laki, dengan gampang bisa menangkap kejanggalan itu.”

“Sekarang giliranku yang mesti heran kalau begitu. Kenapa kau tampak menikmati monumen yang kau bilang jelek ini?” Aku menyergah, mengubah posisi.

“Sederhana. Di musim panas seperti ini, Praha diserbu turis. Mereka ada di mana-mana, kecuali di sedikit tempat yang tak populer dan dilirik sebelah mata seperti monumen ini. Jadi, jangan keliru. Aku tak sedang menikmati monumen jelek ini. Aku butuh senyap.”

Senyap menyergap senja Praha. Gerimis mulai mereda. Langit merah di balik Bukit Petrin memanggil-manggil malam.

***

Perjumpaan kedua kita adalah pada senja bergerimis berikutnya. Angin tak mau mengajak berkawan. Udara musim panas Praha pun sedikit mendingin.

“Boleh aku merapat ke tubuhmu?”

Permintaanmu tiba-tiba. Dan mustahil kutolak. Kios-kios souvenir terserak di Stare Mesto. Berderet-deret sepanjang Smetanovo Nabi hingga ke kaki jembatan Charles. Berdempetan. Kita berjalan saling merengkuh. 

Mengusir dingin. Seperti sepasang kekasih. Gerimis yang tak juga reda menyemai rambut panjang kita menjadi masai.

“Aku ingin bunuh diri.” Kau pecah sunyi dengan cara yang sama sekali tak kuduga.

“Hah!? Maksudmu?”

“Kurang jelaskah itu? Atau bahasa Inggrisku kurang bagus di telingamu?

“No. No. Inggrismu sempurna. Aku mendengar. Tapi….”

“Ya. Aku sedang berpikir untuk bunuh diri….”

“Bagiku tak masuk akal.”

“Maksudmu?”

“Kau begitu muda. Ranum. Cantik. Cerdas. Dunia membentang luas di depanmu. Di sekelilingmu, perubahan berdentum-dentum. Ceko-mu begitu bergairah. Kau hidup persis di tengah contoh sukses Eropa Timur dan Tengah. Masa depan menunggumu. Tinggal kau jemput. Kau dikepung musim semi daya hidup. Bagaimana mungkin kau justru ingin melangkah ke arah sebaliknya.”

“Oh… Begitukah kami dari kejauhan? Kau terlalu romantis. Kau pikir kematian komunisme adalah berita baik seluruhnya? Setelah komunisme mati, perubahan menghasilkan para penikmat sekaligus korban. Celakanya, aku menjadi yang kedua.”

“OK. Sorry untuk kenaifanku. Aku siap menjadi pendengar.”

“Ceritaku akan panjang. Ayo kita ke hotelmu saja. Seperti tadi kau bilang, malam ini kamu mesti packing kan? Keberatan kutemani dengan cerita panjangku?”

“No. Sama sekali tak keberatan.” Tentu aku menggeleng. Begitu baikkah Tuhan padaku senja ini?

***

Di luar, para pelancong hiruk-pikuk lalu lalang. Suara-suara beragam bahasa dunia menerobos masuk melalui jendela kamar hotel yang kita biarkan lebar terbuka. Seperti suara ribuan lebah yang pandai berganti dendang.
Ceritamu panjang. Lirih. Dan kelabu.

“Aku anak kesembilan. Bungsu. Di bawah kekuasaan komunis, hidup menjadi begitu rutin. Ayah dan Ibuku menjadikan kegiatan membuat anak sebagai selingan menantang. Anak demi anak lahir begitu saja. Setiap tahun satu. Berderet-deret seperti pagar.

Komunisme memang memanjakan. Negara menyediakan apa saja, mulai sabun mandi hingga roti, dengan tak ada lebih pada seseorang dibanding yang lain. Di bawah komunisme, orangtuaku dan siapa pun tak dibiasakan apalagi didesak untuk berkompetisi. Segalanya tersedia tanpa perlu upaya berlebih. Tapi itulah, hidup kami menjadi manja. Tidak menjadi kaya, tapi dalam kesehajaan yang terpelihara.

Hidup terasa mudah belaka sampai kemudian Komunisme dijatuhkan oleh Revolusi Beludru dan keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Demokrasi memaksa kami untuk berkompetisi. Negara tak lagi jadi penyantun, tapi membiarkan kami saling sikut untuk bertahan dan saling berebut hidup yang lebih baik.”

Suara-suara bising beragam bahasa dunia yang menyelinap dari balik jendela terbuka mulai perlahan menyenyap. Malam makin sepuh. Kubayangkan, para turis yang mulai letih telah memenjarakan dirinya di kamar-kamar hotel atau menyerbu panti-panti pijat dan klub-klub malam untuk menukarkan penat dengan keletihan yang lebih menyenangkan.

Suaramu masih benderang, ceritamu seolah tak berujung, sementara ujung malam beringsut mendekat.

“Ibuku yang terlampau tua di hadapan kapitalisme, tersingkir dan tak lagi terpakai sebagai pramuniaga di sebuah kios di Kota Tua. Ayahku terkena rasionalisasi, dipecat dari sebuah lembaga birokrasi yang kelebihan pegawai, tanpa dipensiunkan. Kakak-kakakku sibuk dengan urusan masing-masing. Hidup yang keras membikin mereka tak lagi saling peduli satu sama lain.

Aku terjepit dalam ketiadaan pilihan sampai sebuah tawaran yang begitu manis datang begitu saja dua tahun lalu. Sebuah biro penyalur tenaga kerja menawariku menjadi pramusaji pada sebuah restoran besar di Berlin. Kusambut tawaran itu dengan tangan terbuka sambil bersyukur betapa Tuhan telah begitu baik padaku.”

Kau terdiam. Menunduk. Matamu segera menjadi telaga. Dua sudut bendungan di sisi luar pangkal hidungmu makin tak mampu menahan air telagamu yang membanjir. Air matamu berjatuhan tanpa tercegah. Aku merapat begitu saja. Kau menjatuhkan bahumu ke dadaku. Lalu suaramu menyendat pada pangkal cerita yang rupanya segera tiba.

“Aku ditipu. Aku dijual ke sebuah tempat prostitusi di timur Berlin. Garis nasib yang kelam mesti kuterima tanpa daya. Badanku remuk dihantam kerja jahanam itu. Kemanusiaanku terbunuh oleh rutinitas itu. 

Membuka pintu kamar, membiarkan diperlakukan sebagai binatang, memunguti uang yang dilempar begitu saja ke atas tempat tidur sambil mendengar pintu ditutup dan suara sepatu lelaki di lantai menjauh hingga hilang ditelan lobi berkarpet.

Badanku hancur, tapi hatiku lebih hancur. Kemanusiaanku makin hari makin tak bersisa. Benar-benar binasa.”
Air matamu membasahi bahuku. Dingin. Kita diterkam senyap yang tiba-tiba menjadi asing.

“Untunglah aku akhirnya bisa melepaskan diri dari enam bulan terpanjang dalam hidupku itu. Kabur dari Berlin, kembali pulang. Tapi hidup tetap tak bersahabat. Akhirnya kuulang pekerjaan yang sama di sini. Kali ini atas kemauanku. Persisnya, karena aku tak punya pilihan lain. Hingga sampailah aku di titik ini. Ketika sungai Vltava mengamuk tempo hari, keinginanku untuk mengakhiri hidup menderas begitu saja seperti air sungai yang sedang murka.

Ya… aku ingin bunuh diri. Rasanya aku sanggup menghadapi hidup yang berat dan keras, tapi tidak hidup yang terasa hambar seperti ini….”

Sesenggukanmu mengeras. Sebuah cara pilu mengakhiri cerita panjangmu. Dalam pelukanku yang merapat, semua bagian badanmu terasa bergetar. Seperti mesin pengeras jalan yang dengan lembut menekan-nekan dadaku. Lembut sekali. Melahirkan rasa yang asing dan nyaris tak kukenali.

Malam makin larut dalam sunyi. Lalu semua terjadi begitu saja. Kau tak lagi kupeluk, tapi kita saling memeluk. Dan pada dini hari pengujung musim panas itu, kita tergeletak kelelahan begitu saja seusai perjalanan saling bertaut penuh gelegak yang menguras keringat.

***

Senja bergerimis. Langit di atas Bandara Internasional Praha tersapu terlalu banyak kelabu. Birunya seperti malu-malu. Enggan memperlihatkan diri.

Kau mematung menopang dua matamu yang nanar. Lagi-lagi bertelaga. Baru saja kita menunaikan pelukan selamat tinggal. Aku nyaris kaku ketika kau bisikkan kata-kata itu….

“Terima kasih banyak, Lusi. Untuk pertama kali dalam waktu yang sangat panjang, aku sanggup berbagi dan menangis. Kupikir air mataku sudah habis di Berlin. Kembalilah, Lusi. Aku akan menunggu. Jangan-jangan aku sudah jatuh cinta padamu.”

Suaramu parau. Aku hanya bisa mengeratkan pelukan dan mengusap-usap lembut punggungmu. “Aku akan segera menghubungimu, Elena. Sesampai di Jakarta.”

Berjalan menuju ruang tunggu pesawat yang akan membawaku ke Jakarta seperti memasuki lorong panjang yang asing. Kita menjauh, tapi suaramu seperti makin keras memanggil-manggil.

Diam-diam, kupastikan untuk segera kembali. Diam-diam, aku terganggu perasaan serupa Elena. Jangan-jangan aku sudah jatuh cinta.

Sosokmu hilang tertelan kelokan menuju ruang tunggu pesawat. Dan telepon genggamku bergetar.

“Mama, kami tak bisa tidur. Tak sabar menunggumu pulang. Aku dan anak-anak akan menjemputmu di Cengkareng.” Suara sengau milik suamiku terdengar dari tengah malam Jakarta. Keriangannya tak bisa disembunyikan.

Ruang tunggu yang ramai tiba-tiba terasa begitu senyap. Di belakangku, terhalang berlapis-lapis dinding, di bawah gerimis senja Praha seorang perempuan Ceko sedang menangisi kepergianku. Nun di depanku, dipeluk malam Jakarta, seorang lelaki mendekap rindunya yang meluap untukku. (*)
 .
.
Bintaro, 2011