Sabtu, 18 Februari 2012

CERPEN JAWA POS


S i h
OLEH
AJIB PURNAWAN




 

SETUMPUK bibir menyunggingkan senyum. Sih puas dengan jerih payahnya setiap pagi. Ia hanya tidak puas pada derita jiwa yang masih dikekang raga.

Telapak kaki yang ia gunakan untuk berpijak telah menebal beberapa centi. Langkahnya pasti, berangkat sebelum subuh ke hutan jati. Rombongan pencari kayu yang dulu ramai, kini tinggal Sih sendiri. Langkah-langkahnya biasa didahului kawan-kawan pengumpul ranting jati, dengan Hember tua, Gazelle tua, dan Vesting keluaran RRT yang mereka naiki. Sih tidak punya, bukan karena tak kuasa membeli.

Ia pulang ketika matahari menyinari dahi. Di punggungnya sebongkok kayu bakar dari ranting-ranting sisa pencuri. Jarik gendong yang dulu melingkar di tiga perut bayi, memeluk erat puluhan kayu bakar di punggung Sih. Bukan karena sedang melacak dompet yang tercecer bila ia berjalan membungkuk, lebih karena beratnya beban ranting basah seukuran betis.

Jika hari sedang mengikuti kata hati, Sih tak perlu jauh membawa kayunya pulang ke rumah. Lambaian tangan bisa segera meringankan beban di punggung. Tujuh ribu rupiah sudah cukup mampu menghilangkan rasa pegal di badan.

Sih letih, namun tidak heran. Ia memang perempuan yang tak pernah makan bangku sekolahan. Kata orang-orang, uang kertas dalam kepalanya berakhir di angka sepuluh ribu. Dua puluh ribu? Lima puluh ribu? Seratus ribu? “Itu bukanlah uang, hanya kertas yang tidak laku,” katanya.

Ia duduk sore itu. Di hadapannya sebuah meja segi empat dari kayu Trembesi seharga empat kali ia menjual kayu bakar jati. Kursi yang menyangga pantatnya kini harganya empat kali ia berjalan ke hutan. Sih tidak sadar, di bawah kursi-kursi yang mengitar meja pada empat sisinya seekor undur-undur sedang membuat rumah.

Iringan air mata langit sedikit-sedikit memercik dahi, melewati sela-sela genting tua dari tanah liat warisan budaya Babylonia. Langkah-langkah para petani pulang kandang juga turut serta mengalir masuk ke telinga Sih. Pijakan di tanah basah mambuat suara yang melewati lubang kecil-kecil di antara bambu-bambu tipis yang telah dianyam.

Janda itu masih duduk menyangga dagu dengan tangan kiri. Sikutnya menempel di meja, tangan lainnya sesekali mengambil intip lalu memasukkan ke mulut berbibir hitam. Tiang penyangga rumah hanya diam berdiri tegak, semuanya tak mampu mengajak bicara. Tetaplah Sih dalam kesendirian, namun tidak membosankan.
Suaminya? Tidak mungkin pecundang itu datang. Dua anak lelakinya, biarlah masing-masing mencari makan. Sang Hyang Lawu masih sayang, tak mungkin menelantarkan dua kepala yang belum mencapai lima belas tahun. Wo Imai sudah pasti bernasib baik. Si bungsu sejak masih berumur tiga bulan sudah dibawa mobil sedan. Sih menerima emas berupa kalung dan gelang sebagai imbalan, belum lagi tiga ratus uang sepuluh ribuan.

Sambil duduk, Sih masih belum paham, kemana emas dan uang. Meski ia sadar semuanya telah menjadi pembungkus tulang di tubuhnya. Tanpa ia sadari, zaman telah berganti. Di luar kemampuan kepala Sih, kayu bakar menjadi korban konversi. Pikirannya tak mampu menjangkau berita di televisi, walaupun sekadar mambayangkan. Maklum, ia satu-satunya janda setengah baya buta aksara di Banyubiru.

Sih beranjak ke belakang rumah. Kayu bakar yang ia kumpulkan telah memenuhi belakang rumah. Tak seorang pun dalam bulan ini orang sudi membeli.

Seeor tokek berbunyi delapan kali sebelum pintu reot rumahnya diketuk seseorang. Sih beranjak ke depan, sandal japit di kakinya menginjak rumah undur-undur yang belum selesai dibangun. Ia menarik slot pengunci pintu yang terbuat dari kayu. Pintu terbuka sebelum Sih sempat menariknya.

Ia masih ingat siapa pria di depannya meski hari mulai petang dan lampu bohlam lima watt tak begitu menyala terang. Siang tadi, pria itu tersenyum lalu mengedipkan mata kiri saat Sih sedang menjemur kayu bakar di bawah pohon pisang. Sih tersenyum juga dan membalas kedipan, mengaggukkan kepala ketika pria itu sore nanti akan datang.

“Aku dari sawah, langsung kemari,” menyelonong masuk melewati tubuh Sih sambil tangannya sibuk membuka kancing baju. Sih masih berdiri di depan pintu tatkala pria itu menjereng baju di sandaran kursi. Pria itu juga tidak tahu tetasan air dari bajunya memaksa undur-undur pindah tempat untuk membuat rumah.

“Eh, tutup pintunya,” yang diperintah baru saja ingin menghampiri pria itu, namun ia balik kanan dan menuju ke pintu.

To, pria yang datang di waktu hujan, adalah orang pertama yang sudi masuk rumah Sih. Ia tetangga RT, jika berjalan kaki ke sawah selalu melintas di depan rumah Sih yang lebih pantas disebut gubug reot pinggir sawah. Istri To perempuan yang cantik, tidak seperti Sih.

“Ayo,” tatapan mata To menggerayangi sekujur tubuh Sih. Perempuan itu tak biasa menerima tamu, tapi sering bertamu. Ia ingin mencontoh tiap orang yang pernah menjamunya ketika mengantar kayu bakar: membuatkan minum.

“Tidak usah,” kata To.

Polos, lugu, jujur, namun tumpul, seperti ketika ia membalas kedipan mata To. Tak paham artinya, tak tahu maksud kedatangan To juga. Lalu ia mendekat dan duduk berhadapan dengan lelaki yang masih basah kuyup.

“Satu kuintal padi akan kuantar ke rumah ini, musim panen masih dua bulan lagi,” To berbicara seperti itu sambil berdiri menarik tangan Sih, membawanya ke sebuah bilik ranjang yang disekat dengan anyaman bambu berpintu kain kelambu.

Sih mengikuti tangan yang menariknya, sejenak ia berhenti sebelum menyibak kelambu. “Satu kuintal, benarkah?” tanya Sih dengan girang. To hanya mengangguk penuh birahi. Sedangkan Sih masih belum tahu apa yang sebentar lagi terjadi, ia hanya mengikuti.
***
Undur-undur yang terganggu, cicak yang diam, dan tokek yang tadi berbunyi menjadi saksi petang itu. Mereka tidak akan bercerita kepada siapa-siapa. Seorang Sih memang sunguh-sungguh tak mengerti makna dosa, tak tahu arti neraka, sebab tak ada yang memberi tahu. Sedari kecil ia senantiasa bekerja, melakukan sesuatu untuk mendapat upah, menjual barang akan mendapatkan uang. Orang tua Sih tak memperkenankan anaknya sekolah, takut menjadi orang yang tidak jujur.
Para tetangga juga tak mendidiknya. Sih adalah kayu bakar, jika butuh memasak, barulah mereka ke rumah Sih, sebatas membeli kayu lalu pulang. Begitupula dengan Sih, tak pernah merumpi dengan para ibu. Ia tahu hidup untuk bekerja, hidup tidaklah untuk bicara saja, itu pesan orang tua Sih.

Peristiwa di balik kelambu malam itu adalah pengalaman baru bagi Sih. Ia ikuti kemauan To melepas gejolak pangkal pahanya. Toh, To memberinya satu kuintal, meski menunggu panen. Sih juga tahu kebiasaan itu, para manusia di desanya bilang masa panen adalah masa membayar. Mereka akan membayar pupuk yang sebelumnya telah mereka pakai, mereka akan membayar biaya SPP anak-anak, mereka akan membayar hutang di warung, bahkan membayar kayu bakar milik Sih juga di waktu panen. Sih maklum dan percaya.
Sih seakan mendapatkan pengalaman berharga. Tapi ia tak mungkin menawarkan auratnya dengan cara berteriak seperti menjual kayu bakar. Selugu-lugunya janda itu, ia tahu bawah perutnya tak boleh dibicarakan dan dipertontonkan. Namun boleh diapa-apakan di tempat yang tertutup, toh dulu suaminya juga melakukan hal yang sama.

“Ia akan memberiku satu kuintal, dulu suamiku tak memberi apa-apa,” batin Sih suatu siang. Sejak itu, berkali-kali To datang ke rumah Sih. Terkadang dua hari sekali, seminggu sekali, asal lingkungan sedang sepi, meski tak harus ada hujan.

Man dan Basu, pria bercucu dan beranak satu, mengikuti jejak To. Bagi Sih, itu melegakan hati, kayu bakarnya sudah tak bisa diharapkan. Perempuan itu membuat satu kuintal sebagai sebuah patokan. Tidak kurang, boleh lebih. Segalanya terjadi setelah mereka berdua mengangguk. Namun Sih masih bingung satu hal, mengapa ketiganya berpesan pada dirinya agar tidak menceritakan yang disaksikan undur-undur, tokek, dan cicak kepada siapa pun? Sih hanya mengikuti.

Dua bulan dinanti Sih dengan menghitung kusen pada langit-langit rumah yang sebenarnya adalah genting. Besoknya lagi ia menghitung genting, lalu jumlah nyamuk yang mengiang di telinga seperti mengejek saja tanpa menggigit. Bukan jumlah sebenarnya yang didapatkan Sih ketika berhenti menghitung, namun hasil yang diinginkannya. Hidup penuh hitungan, berhenti ketika lelap menjemput mimpi.
Pagi itu Sih tak ke hutan. Ia menyapu, dilihatnya banyak rumah undur-undur di lantainya yang berdebu. Jogan tempatnya berpijak memang tempat yang membahagiakan bagi binatang itu. Sih melihat satu rumah undur-undur yang besar, berbentuk kerucut terbalik sempurna, tepat di bawah tiang dalam rumahnya yang dekat dengan kelambu.

Sih girang, ia mengangkat sapu, mengembalikan ke belakang rumah, lalu balik lagi di atas rumah undur-undur. Sih memperhatikan seekor belalang sangit mati terperangkap dalam jebakan rumah undur-undur. “Musim panen tiba,” girang Sih setengah berbisik.

Sih keluar rumah, bertanya kepada Wo Min yang kebetulan membawa dua sak padi di atas sepedanya. Jawaban yang Sih terima, “Belum, baru beberapa sawah, seminggu lagi panen besar.”

Panen pertama hingga panen raya membuat Sih sedemikian sibuk. Ia memberikan jasanya membantu pemilik sawah memanen padi. Bermodalkan sabit kecil untuk memotong tanaman padi, batu seukuran kepala manusia untuk merontokkan padi dari tangkai, dan layar tempat memukulkan tangkai-tangkai padi ke batu, ia berangkat pagi, meninggalkan kesehariannya di hutan jati.

Sepuluh kilogram yang ia kumpulkan, mendapatkan upah satu kilogram padi. Sayangnya Sih tidak tahu hitung menghitung. Setahu Sih, bawon [1] yang ia dapatkan berjumlah satu sak, itu saja. Padahal kalau ia tahu, selama satu minggu, ia hanya diupahi 60 kilogram, itu pun setelah derep [2] di sawah Wo Min, Bupad, dan Panut. Belum lagi harus mengusung dari sawah ke rumah, tentu begitu lelah.

Sih sebenarnya juga tak mampu membayangkan, satu kuintal itu berapa sak. Yang ia tahu jumlah itu banyak, bahkan sangat banyak. Sambil duduk di kursi, bawon satu sak yang kini sudah bersandar di tiang rumahnya ia perhatikan. Lalu angannya melayang ke mulut To di petang pertama singgah di rumah Sih. Seperti sebuah kaset ia memutarnya kembali, “Satu kuintal,” ia lanjutkan memutar kaset kedua dan ketiga, bunyinya sama.
Setiap sore Sih duduk di kursi, persis saat hujan ia mendengar langkah langkah petani pulang dari sawah seperti dulu. Setiap sore juga, tak ada langkah kaki mendekat, terdengar lalu hilang. Penantiannya mencapai dua purnama. Musim panen berganti tanam, masih tak ada ketukan di pintu.

Suatu saat seorang perempuan datang ke rumah Sih, membeli kayu bakar. Ia bernama Warti, sebelum beranjak pulang, Sih berpesan kepadanya, “Suamimu punya hutang gabah satu kuintal.” Dan Sih menjawab dengan polos berondongan pertanyaan yang muncul setelah pernyataannya.

Sih tak tahu etika itu, Sih tak tahu cara berbohong. Umpatan yang ia terima dari istri To ia anggap ocehan burung pentet yang diam jika sudah makan belalang. Namun makian dan tamparan yang datang dari To beberapa saat kemudian, membuatnya menjadi linglung. Sih tidak bisa menangis karena Sih benar-benar tidak paham etika pangkal paha.

***

“Musyawarah pada malam hari ini akan diawali dengan pengakuan dari Sih,” ujar Kamituwa di tengah warga kampung. Acara malam itu memang heboh, tidak sepi seperti rapat biasa.
Sih melakukan yang diperintahkan Kamituwa, membuat pengakuan. Selama seperempat jam ia berbicara dengan bahasa Jawa dan raut muka menunduk. Tangannya mengelus-elus perut yang kini sudah tampak mengendut.

Manusia-manusia yang disebutkan dalam ceritanya tidak ada yang datang, tidak masuk wilayah pemerintahan Kamituwa. Detik itu juga puluhan pemuda menuju rumah-rumah manusia dalam cerita. Tak lama ketiganya tiba, diseret di tengah-tengah telaga manusia yang marah, akibat saling tuduh antar sesama tak pernah terbukti kebenarannya. Kini kebenaran itu telah duduk bersila di depan Sih, di samping Kamituwa, di tengah kepungan warga.

“Apakah kalian bertiga?” suara Kamituwa parau. Hanya To yang mengangguk, Basu menggeleng marah dan membentak Kamituwa. Tak disangka lemparan air ludah meluncur dari mulut-mulut warga yang sedang butuh sasaran amarah. Sedangkan Man malah menangis.

“Penuhi janji kalian kepada Sih sekarang juga,” para pemuda membawa mereka pulang ke rumah masing-masing. Sebentar kemudian ketiganya kembali ke rumah Kamituwa membawa sembilan sak gabah, masih di bawah ancaman para pemuda.

Kamituwa menyuruh semua orang untuk diam. Ia melihat Sih, lalu menyapu ketiga wajah laki-laki terhukum dengan mata yang dibuat bijaksana, “Kalian bertiga adalah ayahnya, biayai persalinan Sih.”

“Aku yang akan membesarkan bayi di perut itu,” tutup Kamituwa. (*)

CERPEN JAWA POS


KREDIT  JANDA
OLEH
SANIE B KUNCORO




 


PAGI datang. Cahaya matahari bergegas mengeringkan basah embun sisa semalam. Helai-helai daun yang lembab bergetar lembut pada reranting penumbuhnya, seolah siap bersegera menyerap sinar matahari sebagai menu sarapan untuk akar dan batang pohon. Serupa denganmu yang memantik api demi mematangkan hidangan sarapan.

Kau tambahkan sebilah kayu bakar pada lubang di antara potongan bata yang tersusun sebagai tungku. Segera api membesar, bertambah daya panasnya untuk mendidihkan sepanci air yang terjerang di atasnya.

Kau lepas simpul karung beras, harus kau cuci beras itu dengan segera sebelum air mendidih. Namun gerak sigapmu terhenti, bayang tubuh kecil anakmu di ambang pintu dapur seketika membuatmu membeku.

Telah rapi anak itu dengan seragam sekolahnya. Seragam putih pudar  nyaris kekuningan. Anakmu selalu tampak nyaman mengenakan seragam pudar warna itu. Barangkali karena seragam itu terbuat dari kain katun yang justru makin lembut karena sering dicuci, ataukah pemakluman demi berusaha menyamankan diri karena tidak ada pilihan untuk memperbarui seragam itu? Entahlah, bisa jadi kedua alasan itu saling melengkapi.

Anakmu gelisah. Tatap matanya mengguratkan galau sekaligus tanya yang jelas terbaca. Sedemikian nyata kegelisahan itu nyaris merenggut rona kepolosan anak usia sepuluh tahun.

“Bagaimana, Mak?” ragu dia bertanya.

Lidahmu membatu. Tak ada padamu jawaban memadai dengan alasan yang layak. Anakmu menunggu, tegak berdiri dengan sikap yang takzim.

“Bukankah semalam sudah ada uang itu? Mak simpan di lipatan stagen [1]?” Lagi anakmu bertanya. Kali ini suaranya seolah menggugat berbalut cemas.

Kau membisu. Benar, semalam uang itu tersimpan rapi pada lipatan terdalam stagen yang kau kenakan. Rapat dan erat stagen itu melapis perut tipismu, sama sekali tak menyembul apalagi memancing kecurigaan. Namun agaknya setiap lembar uang memiliki aroma tertentu sehingga terendus jejaknya oleh suamimu dan ikatan stagenmu tak berdaya menyembunyikannya lebih lama lagi. Tak cukup pula dayamu untuk mempertahankannya. Biru lebam pada pinggulmu masih menyisakan nyeri. Itulah  jejak hantaman ketika tak kau serahkan uang itu dengan rela. Ketika terkapar tubuhmu oleh pukulan, saat yang sama harapan dan rencanamu pun terkapar sia-sia.

Entah berapa bulan lalu anakmu mengingatkan tunggakan uang sekolahnya. Kemarau terlambat datang ketika itu, terik matahari hanya bertahan hingga tengah hari lalu mendung sesudahnya membuat batang-batang enceng gondok yang kau jemur tidak kering sempurna, menjadikannya tidak memenuhi standar pabrik penampung. Maka harus menunggu lebih lama sebelum meroncenya menjadi jalinan panjang dan disetorkan pada pabrik mebel di perbatasan kampung. Artinya uang pembayar biaya sekolah itu harus pula menunggu.

Akhirnya, setelah berbulan menjemur dan bermalam-malam meronce  kemarin sore kau terima hasil setoran roncean enceng gondok itu. Akan lunas tunggakan uang sekolah, bahkan tersisa sebagian untuk membeli beras, sedikit minyak dan bumbu dapur ala kadarnya. Demikianlah rencanamu pada mulanya.

“Mak,” anakmu memanggil. Suaranya bergetar, memantulkan cemas yang membuatmu gemetar sekaligus pedih.

Bergerak tatap matamu, beralih pada pintu kamar yang sedikit terbuka. Dari sana samar terhembus aroma tuak. Itulah jejak tertinggal dari jalinan enceng gondok yang menyita peluhmu sejauh ini.
Mata anakmu mengikuti tatap matamu

“Tapi hari ini awal ulangan umum, Mak,” lagi anakmu berkata. Kali ini berupa seruan yang menggugat, “tak akan guru mengijinkanku mengikutinya bila tak terlunasi tunggakan itu.”

Lalu kalian terdiam saling bertatapan. Kau sadari saat itu, kalian sepasang anak beranak yang nyaris kehilangan akal. Lalu desis air mendidih membawa sesuatu padamu, sekantung beras di sudut dapur. Tanpa berpikir lebih lama kau raih kantung itu dengan segera.

“Ini, berikan pada gurumu,” kau serahkan kantung beras itu pada kedua belah tangan kecil anakmu. “Katakan ini pembayar sementara uang sekolahmu. Nanti atau besok Mak akan menukarnya dengan uang tunai.”
Anakmu gugup, terutama adalah ragu.

“Sungguh-sungguh uang tunai,” katamu meyakinkan.

Anakmu mengangguk kemudian dan bergegas menuju sekolahnya. Sekantong beras erat berada dalam pelukannya. Entah dengan cara bagaimana akan diyakinkan gurunya untuk menerima sekantong beras itu berikut janji ibunya. Gagah langkahnya dalam gerak yang bergegas. Itu adalah karena ia seorang anak yang yakin pada janji ibunya.

Lalu kau kembali pada tungku di dapur. Memadamkan nyala apinya dengan sekali tumpas. Tidak ada lagi beras yang bisa kau tanak, air mendidih itu tidak kau perlukan lagi.

***

Kakimu melangkah menuju gudang wak Saroh. Sebuah bilik kecil dengan tumpukan karung gula pasir dan beras. Wak Saroh sedang memindahkkan gula dari karung besar ke dalam plastik pembungkus eceran 1 kiloan. Masing-masing ditimbang satu persatu hingga sekuintal gula itu terbagi dengan sempurna.

Kau raih dingklik (bangku kecil) dan duduk bersandar karung.

“Biarkan aku membantumu sehari ini,” katamu menatap Wak Saroh lurus-lurus, “Cukup bayar dengan sepiring nasi untuk makan anakku siang nanti. Aku tak punya beras sama sekali.”

Wak Saroh menatapmu, sama lurusnya dengan arah matamu.

“Kalau hanya sepiring nasi untukmu atau anakmu, tak usahlah kau bekerja padaku. Pergilah ke dapur dan ambil yang kau perlukan,” katanya.

Kau menggumamkan terimakasih.

“Bukankah kemarin kau beli sekarung beras?” Wak Saroh bertanya tanpa nada mendesak.

“Kupakai untuk membayar uang sekolah.”

“Zaman sekarang mana ada sekolah menerima beras sebagai pembayaran? Hanya sekantung pula, mana cukup? Seingatku itu hanya terjadi di sekolah desa terpencil yang bahkan tidak terjangkau aliran listrik.”

“Hanya itu yang kupunya.” Kau menunduk, menelan pahit yang mendatangimu entah sejak kapan.

“Ke mana pula uang enceng gondokmu?” mata wak Saroh menajam kini.

Kau gelengkan kepala, tanpa sepatah kata pun menjawab pertanyannya. Patahan kata yang tak perlu, karena wak Saroh pastilah tahu apa arti gelengan kepalamu. Napas panjang terhela kemudian. Diulurkannya padamu potongan tali rafia untuk mengikat plastik gula yang telah ditimbang.

“Apa yang kau harapkan dengan mempertahankan laki-laki itu?”
Pertanyaan beriring hela napas itu menghampiri liang dengarmu. Tarikan napas yang sungguh kau tahu gerangan apa yang tersirat di dalamnya.

“Kalau kau pikir bahwa suatu hari nanti ia akan terlepas dari jerat judi dan tuak, itu artinya kau sedang menunggu keajaiban. Dan keajaiban bahkan lebih langka daripada barang antik. Barang antik masih bisa kau coba cari di pasar loak, tapi keajaiban tak akan kita temukan di mana pun.”

Kau terdiam.

“Apa pula yang kau pertahankan? Di malam hari kau serupa pelacur percuma baginya dan siang hari serupa kantung uang yang selalu bisa dipalak. Banyak perempuan terbodohi oleh rayuan laki-laki. Tapi lelakimu itu bahkan tidak memerlukan rayuan untuk membodohimu.”

Hatimu tercabik. Bukan oleh karena ketajaman kalimat Wak Saroh, melainkan oleh karena kebenaran yang tak terelakkan pada setiap pernyataan itu. Apa yang diungkapkannya benar belaka. Kau bahkan lebih bodoh dari perempuan mana pun.

Lalu seseorang muncul di belahan pintu.

“Angsuran, wah Saroh,” kata tamu itu sembari memberi salam.

“Duduklah dulu sebentar, mau kutuangkan secangkir teh untukmu?” sambut wak Saroh.

“Terima kasih, akan terlalu banyak minumku nanti,” tolak tamu itu lembut, “masih banyak angsuran yang harus kujemput.”

Wak Saroh tertawa, “Begitu ya? Dan setiap angsuran hanya menawarkan air minum saja?”
Tamu itu ikut tertawa.

“Tanggal tua begini, banyaklah yang harus dihemat, itu supaya bisa tetap membayar angsuran tepat waktu.”

“Ya, begitulah.”

Saat Wak Saroh menyerahkan sejumlah uang, tahulah kau siapa orang itu dan seketika muncul sesuatu dalam benakmu.

“Bisakah kau beri aku pinjaman serupa itu?” tanyamu dengan segera. Sangat segera tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu apakah kau layak mengajukan permintaan serupa itu. Tapi bukankah harus kau lakukan segala hal demi memenuhi janji pada anakmu?

Wak Saroh dan tamunya saling bertatapan, lalu beralih padamu kemudian.

“Tapi ini kredit janda,” suara wak Saroh seolah mengambang.

“Apa artinya?” kau tidak mengerti.

Tamu itu menatapmu dengan sungkan berbalut belas kasihan.

“Maaf Ibu, ini bukan kredit biasa. Ini adalah pinjaman tanpa bunga atau pun barang jaminan, yang diprogram khusus oleh lembaga pendonor untuk membantu kehidupan ekonomi para perempuan yang tak bersuami.”

“Artinya, kau harus menjadi janda terlebih dahulu untuk mendapatkan bantuan pinjaman itu,” tambah Wak Saroh.

Kau termangu, lalu seakan melayu oleh harapan yang mendadak pupus. Jadi begitulah. Agaknya para janda dianggap lebih layak mendapat bantuan dibanding para perempuan bersuami. Meski kenyataannya ada perempuan yang justru lebih menderita karena bersuami.

Kau jinakkan harapan yang seketika tumbuh dan layu pada detik berikutnya. Kau redakan gejolak hati yang seolah hendak menggugat. Kau berpikir kemudian sudah waktunya untuk berhenti menjadi perempuan bodoh. Berhenti menjadi perempuan yang disetubuhi demi nafsu belaka atas nama perkawinan. Berhenti menjadi perempuan yang dipalak atas nama ketakberdayaan.
Bagaimana caranya?

Perceraian bukanlah sesuatu yang tidak memerlukan biaya. Lebih dari itu, lelakimu tidak akan sudi bercerai dengan mudah. Anakmu dan orangtuamu di kampung, bisa dipastikan akan menjadi obyek ancamannya untuk tetap mengikatmu.

Apakah demi semua itu kau akan tetap menjadi perempuan yang terbodohi bahkan tanpa rayuan?
Sejatinya kau bukan perempuan bodoh. Hanya dengan berpikir sebentar telah kau peroleh cara untuk menjadikan dirimu seorang janda, tanpa proses perceraian yang rumit dan mahal, tanpa pula melarikan diri dari ancaman.

***

Kakimu melangkah gamang membawa niat samar itu dalam benakmu. Kau hanya memerlukan beberapa cairan untuk membuat tuak oplosan, lalu menuangkannya pada botol-botol yang berjajar di meja di mana lelakimu biasa menempatkan tuaknya. Taruhlah pada jajaran terdepan sehingga akan teraih paling awal.

Pada saatnya tuak oplosan itu akan melakukan tugasnya dengan baik. Tujuan itu akan tercapai dengan sempurna tanpa menimbulkan pertanyaan yang berlebih. Seantero kota tahu bahwa dia adalah peminum kelas berat. Bukan hal aneh bila peminum mati oleh karena keracunan tuak oplosan. Hal semacam itu telah terjadi berulang kali di seantero negeri. Tidak perlu dilakukan pengusutan untuk memperoleh terdakwa. Kematiannya akan menjadi sesuatu yang diikhlaskan, bahkan disyukuri.

Semudah itu. Lalu kau akan mendapat pinjaman kredit janda untuk melunasi uang sekolah anakmu dan kau akan kembali meronce enceng gondok untuk melunasinya. Kau bahkan tidak perlu lagi menyembunyikan uang di balik lipatan stagen. Kau akan tertidur dengan tenang setiap malam tanpa perlu mendengar dengus nafas beraroma memuakkan.

Rancangan yang sederhana. Namun benarkah mudah?

Dahulu kala ada seorang nabi yang bermahkota jalinan duri dan disalibkan oleh sebuah rezim. Sebilah pedang menusuk lambungnya sehingga darah mengaliri palang salibnya dan matilah nabi itu.

Kematian nabi itu diyakini para pengikutnya, merupakan sebuah upaya penebusan dosa umatnya. Bahwa dialah yang tersiksa demi supaya dosa umat terampuni. Kematiannya adalah kunci pembuka pintu surga. Oleh karena itu nabi itu disebut sebagai Sang Juru Selamat.

Dengan kematiannya, suamimu juga akan menjadi juru selamat bagi keluarganya. Anakmu akan bersekolah dengan tenang karena uang sekolahnya terbayar tepat waktu, karena tidak lagi terrenggut untuk membeli tuak ayahnya. Kau akan menjadi seorang janda yang bekerja dengan giat dan menyimpan setiap rupiah penghasilanmu dengan leluasa dan aman di tempat yang sewajarnya tanpa harus merasa was-was setiap kali.
Kalian akan menjadi sepasang anak beranak yang mencoba menata masa depan dengan lebih baik yang tidak pernah terwujud selama lelakimu tetap tinggal. Dengan kematiannya, ayah anakmu akan menjadi seorang juru selamat.

Sang nabi tergenapi takdirnya sebagai juru selamat oleh karena seorang murid Yudas Iskariot menggenapi takdirnya sebagai pengkhianat yang menyerahkannya kepada rezim yang kemudian menyalibkannya.
Sekarang, sanggupkah kau menjadi seorang serupa Yudas demi menjadikan suamimu yang adalah juru bencana menjadi sebagai juru selamat?

Malam larut sudah, menebar jaring kegelapan pada langit tanpa cahaya. Tidak ada bintang berkedip yang terjaring di antara celahnya. Semesta seolah larut dalam lelap nan hening, sejauh telinga mendengar dan mata menerawang.

Namun sepasang matamu tak juga rebah dalam tidur melainkan terus berjaga menelusuri malam yang bagai tak berfajar. (*)
.